Sabtu, 17 Agustus 2013

Hanya (mem)bisu



Terpaut oleh apa pun, tentu semuanya akan menyisakan jeda. Sebuah jarak. Aku tak pernah mengkhawatirkan apa pun. Jika perasaan itu tak akan pernah bisa kembali aku rasakan. Aku sudah memperkirakannya akan demikian. Aku tak menakutkannya. Yang pasti, aku tak menakutkan apa saja.

Apa saja bisa berlalu dengan cepat, lebih sigap dari yang pernah aku pikirkan. Dan tak ada yang bisa mencegahnya.


Kematian hanya membuktikan bahwa aku pernah merasakan bagaimana itu hidup. Kematian menunjukan bahwa hidup akan menemui akhir. Hidup tidak mempermasalahkan mengenai kematian. Karena dua hal itu bukan aksara bisu. Ia temali. Saling mengikat dan aku tak mengkhawatirkan apa pun. Apa saja.. tidak sama sekali…

Jumat, 02 Agustus 2013

Paruh Jiwa



Syahdu membelenggu
Mendesah ragu dalam kalbu
Tertatih bibir beraksara
Menggurat jalinan rasa
;
Asa memagutku begitu rupa
Tenggelamkanku di semburat warna
Hasratku kan sebuah tanya
Rindu itu milik kita?
;
Terpekur dalam lamunan beku
Siluet romanmu membias maya
Senyummu terbingkai nyata
Terpejam mata merasai aura
;
Adakah kau tahu?
Engkaulah pemilik rasa
Hendakkah kuluahkan semua?
Menyempurnakan separuh jiwa?
;
Agar tidak binasa menemui usia
Tetap berjelaga menggandeng masa
Biar digumuli dusta
Dikangkangi nestapa
Namun tak menjadikannya sirna
;
Jiwaku, jiwamu
Berparuh dalam kuntum rindu
Menghilangkan sendu agungkan gugu
Mendekam di kalbu
;
Dan rinduku tetap padamu..
Aku syahdu…



LEAVING JAKARTA II : MADNESS



Pukul lima pagi Nimo meneleponku. Ia menagih dari apa yang kujanjikan tempo hari tentang memberinya pekerjaan. Aku jawab dengan memintanya datang ke salah satu coffeshop di bilangan Pondok Indah.
Aku datang lima menit lebih awal. Tanpa persiapan untuk berkata apa, tapi tentunya melanjutkan kebohongan yang senantiasa mengikuti alur.
“Terima kasih sudah datang,” kataku sembari menerima uluran tangannya yang terbungkus lengan kemeja berwarna biru pucat. Dekapan tangannya lebih kuat dari tiga kali pertemuan sebelum hari ini.
“Saya yang harusnya berterima kasih,” suaranya terdengar kaku. Nimo membuat perubahan kosakata yang sangat mencolok karena ia membuat pertemuan ini betulan formil.
Aku tertawa, “Latte?” kataku menawarkan dan ia mengangkat bahu. Sorot matanya tajam, memperlihatkan kegairahan yang menandak-nandak laiknya kuda jantan liar siap menggagahi sabana.
“Bisa dimulai sekarang?” katanya terdengar tak sabar.
Aku menerima berkas pribadi yang di sodorkan kepadaku. Ini bagian yang kunikmati secara jujur. Mencari dan menggali banyak hal mengenainya seperti dulu di kesiswaaan dengan alasan untuk kepentingan kegiatan sekolah atau kuliah, merupakan satu kepuasan yang tak bisa diukur dengan apa pun jika aku mendapatkannya. Dan sekarang, kepuasan itu masih sama, sesuatu yang pernah ada, menghilang tertindih waktu, lalu waktu pula yang memunculkannya lagi, dengan cara yang tak terduga-duga. Rasanya tetap sama.
“Bagaimana?” tanyanya sembari mengusap bibirnya dari bekas cecapan latte.
“Great,” aku menjawab spontan, kembali berbohong. “Dan seharusnya.. atau padahal saya tidak memerlukan ini.. sungguh.. saya sudah menjanjikan kepadamu..”
“Harus professional Bos.. atau calon Boss..” Nimo menggeleng sambil tersenyum.
“Baiklah kalau itu maumu,” aku menyerah memandang mata cokelat terangnya, kali ini terlihat dalam dan pedih.
“Itu artinya saya lolos.. kau merekrut saya..?”
Aku mengangkat bahu, beberapa detik sebelum Nimo cepat bangkit dari duduknya, menyambar dan menarik lenganku agar berdiri. Erat ia memelukku.
“Terima kasih.. terima kasih kawan..” katanya dengan sedikit isak yang kudengar.
Sesuatu yang pernah mati tumbuh lagi. Ia menggeliat sejak aku menatapnya.
“Ini akan menjadi kerjasama yang luar biasa,” katanya antusias. Beberapa kali menyentuh pundakku.
“Ya, kerjasama luar biasa akan dimulai dengan cara kau bekerja sebagai tenaga freelance,” kataku kaku, gusar dengan kebohongan yang mulai membiasa.
Freelance?” dia memekik kaget. Mata dalam pedihnya membinar lagi dan aku lumpuh. “Tidak membebani karyawan dengan pakaian eksekutif.. ya itu yang saya cari..”
Kebohongan menjabat tanganku lebih erat. Kegilaan menderaku rapat. Apa lagi yang bisa kulakukan agar tak bisa membiarkannya lebih lama, kecuali.. menikmatinya? Kegilaan itu?



LEAVING JAKARTA



Sebentar lagi hujan, ya, tak salah lagi, sebentar lagi pasti hujan. Hawa panas beradu dengan awan-awan gelap yang menutupi hamparan langit Jakarta. Apalagi namanya kalau itu bukan pertanda akan datangnya hujan. Dan lihat saja, butiran-butiran bening itu sudah memecah ruah pada pelataran bumi. Membasahinya tanpa ampun.

"Maaf, tidak membawa payung?" tanya seseorang di sampingku. Aku menggeleng tanpa menoleh. Aku tak mempedulikan apapun kecuali ujung celanaku yang kecipratan tanah lumpur.

"Kalau jas hujan?"

"Maaf, apakah saya nampak membawa benda-benda yang anda maksud," selorohku kesal, kali ini kupaksa untuk menoleh. Melihat siapa si empunya suara bertanya itu. Dia tersenyum.

"Barang kali anda menyimpan payung atau apapun di kantong anda,"

"Langsung saja bilang kalau saya mirip seperti doraemon, itu sedikit mengurangi beban kekurang ajaran anda," balasku kesal.

Laki-laki ini kembali tersenyum.

"Masih Kenny yang dulu," ia menarik tanganku. Membawanya dalam erat jabatannya. "Bahkan masalah yang sama, ingatan yang lemah untuk teman lama."

Tunggu! Teman lama?

"Nimo Hendarto," katanya mengingatkanku.

"Alamaakk!! Sudah besar kau rupanya," pekikku menghambur kedalam dekapannya, tak lama, hanya formalitas kedekatan sahabat lama saja.

"Sedang apa kau di sini? Bukannya aku dengar kau menikah dengan Sarita? Anak pengusaha garmen itu?"

"Ah, benar. Aku memang menikah dengannya."

"Lalu kenapa kau berdiri di sini? Bukankah seharusnya kau tinggal duduk mentereng di belakang jok, ya setidak-tidaknya Avanza."

"Bukan masalah keharusan, justru karena aku sedang rindu dengan hujan. Seperti dulu, hujan-hujanan," ujarku sambil bergelak. Nimo mengikutiku tertawa.


Menyesap sedikit jeda saat selarik kilat menyambar. Refleks, kaki-kaki kami undur beberapa langkah kebelakang. 

"Jadi, sedang apa kau di sini?" tanyaku pelan.

"Mengemis pekerjaan," jawabnya singkat.

"Kalau begitu, apa aku perlu memberimu,"

"Sangat perlu," potongnya cepat. "Aku memerlukan pekerjaan, Ken."

"Oh, jadi sekarang ini?"

"Ya, aku bangkrut. Tak memiliki modal untuk kembali memulainya, Ken. Aku memang lebih beruntung karena kemarin aku memiliki sedikit tabungan untuk menutupi hutang kepada bank. Jadi," Nimo berhenti. Ada rona malu yang membias di wajahnya. Rona yang sama sekali berbeda dengan masa tujuh tahun lalu saat ia melamarku untuk bergabung dengan perusahaan advertising yang dibangunnya bersama Rara dan Aldo. Tunangan dan calon kakak iparnya.

"Kalau begitu, kau,"

"Ya, Ken. Kami bangkrut. Dan sekarang baik aku, Rara, dan Aldo jalan sendiri-sendiri. Aku dan Rara memutuskan tak menyalahkan siapa pun atas hancurnya usaha kami itu. Kendati," sekali lagi Nimo menggantung kalimatnya. Ia tersenyum nyinyir. Sebelum kemudian menunduk.


Hujan telah reda. Sekarang kami sudah duduk di sudut kafe dengan cangkir-cangkir kopi yang telah tandas setengahnya. Kuperhatikan, banyak sekali perubahan dalam diri Nimo. Sekarang dia merokok. Bahkan belum lebih dari tiga puluh menit kami duduk di pojokkan kafe ini, Nimo sudah menghabiskan dua batang rokok mild.

"Apa rasanya?" tanyaku pelan.

"Mint," jawabnya singkat. Pradugaku, ia tahu arah dari pertanyaanku itu, sehingga ia tepat menjawab tanpa harus memastikan.

"Sejak kapan?"

"Tak lama setelah kebangkrutan itu."

"Kau tak harus,"

"Bagaimana kalau kita bicara mengenai pekerjaan saja?" potongnya cepat. Kupaksakan untuk mengangguk. "Ok. Bagaimana dengan perusahaan ayah mertuamu? Berjalan lancar kan?"


Ah, jujur. Bukan aku enggan berempati. Namun apa yang bisa kubagi dengannya selain dari kenyataan keadaanku. Aku bercerai dengan Sarita yang maniak bahkan sebelum pernikahan kami memasuki masa satu tahun. Gila saja! Mana mungkin aku tahan dengan kegilaannya itu? Aku menikahinya dengan harapan aku bisa mencintainya, ya memang, tujuanku juga untuk hidup lebih baik secara dia pewaris tunggal keluarga Prayoga. Namun rupanya, aku harus menyerah diawal dan merelakan impian hidup enak tanpa banyak susah itu setelah sekian bulan aku menjadi budak sex untuk Sarita sinting itu.

"Hei, bengong? Orang aku nunggu jawaban kamu, eh kamu malah asyik ngelamun jorok? Menyesali waktumu yang seharusnya tengah melahap tubuh semok Sarita ya?"


Aku hanya bisa nyengir. Apa lagi memangnya?


"Ah, bukan," jawabku lirih.





"Lalu?"

"Aku hanya sedang memikirkan posisi yang bagus untuk seorang handal sepertimu pada perusahaan kecil keluargaku saja," setan! Kenapa aku malah berbohong jadinya?

"Begitu ya?" tanggapnya dengan tersenyum tersanjung. Aku kembali nyengir.


Oh, God! Setelah kebohongan sekali itu, hari-hari berikutnya aku kembali mengumbar kebohogan yang lain untuk Nimo. Entahlah, melihat senyum cerahnya, semakin membuatku menjauh dari berita nyata yang harusnya aku sampaikan kepadanya. Aku kian menumpuk kebohongan-kebohongan yang lain. Bukan saja mengenai pekerjaan, rumah tangga, bahkan sampai tempat tinggal dan gaya hidup.

Demi cerah senyum diwajahnya, aku rela meminimalkan biaya beras demi berkaleng beer atau kopi dan mojok berdua dengannya di kafe. Rela naik taksi untuk bisa pulang mengantarnya. Dan selanjutnya harus bangun lebih pagi dari biasanya agar bisa sampai di kantor tepat waktu karena sekarang aku menjadi pecinta green peace dadakan. Hhm, ya aku pun menjadi pejalan kaki setelah sebelumnya ngantri di loket bus trans Jakarta. Ah,



CONTINUED..