Jumat, 02 Agustus 2013

LEAVING JAKARTA II : MADNESS



Pukul lima pagi Nimo meneleponku. Ia menagih dari apa yang kujanjikan tempo hari tentang memberinya pekerjaan. Aku jawab dengan memintanya datang ke salah satu coffeshop di bilangan Pondok Indah.
Aku datang lima menit lebih awal. Tanpa persiapan untuk berkata apa, tapi tentunya melanjutkan kebohongan yang senantiasa mengikuti alur.
“Terima kasih sudah datang,” kataku sembari menerima uluran tangannya yang terbungkus lengan kemeja berwarna biru pucat. Dekapan tangannya lebih kuat dari tiga kali pertemuan sebelum hari ini.
“Saya yang harusnya berterima kasih,” suaranya terdengar kaku. Nimo membuat perubahan kosakata yang sangat mencolok karena ia membuat pertemuan ini betulan formil.
Aku tertawa, “Latte?” kataku menawarkan dan ia mengangkat bahu. Sorot matanya tajam, memperlihatkan kegairahan yang menandak-nandak laiknya kuda jantan liar siap menggagahi sabana.
“Bisa dimulai sekarang?” katanya terdengar tak sabar.
Aku menerima berkas pribadi yang di sodorkan kepadaku. Ini bagian yang kunikmati secara jujur. Mencari dan menggali banyak hal mengenainya seperti dulu di kesiswaaan dengan alasan untuk kepentingan kegiatan sekolah atau kuliah, merupakan satu kepuasan yang tak bisa diukur dengan apa pun jika aku mendapatkannya. Dan sekarang, kepuasan itu masih sama, sesuatu yang pernah ada, menghilang tertindih waktu, lalu waktu pula yang memunculkannya lagi, dengan cara yang tak terduga-duga. Rasanya tetap sama.
“Bagaimana?” tanyanya sembari mengusap bibirnya dari bekas cecapan latte.
“Great,” aku menjawab spontan, kembali berbohong. “Dan seharusnya.. atau padahal saya tidak memerlukan ini.. sungguh.. saya sudah menjanjikan kepadamu..”
“Harus professional Bos.. atau calon Boss..” Nimo menggeleng sambil tersenyum.
“Baiklah kalau itu maumu,” aku menyerah memandang mata cokelat terangnya, kali ini terlihat dalam dan pedih.
“Itu artinya saya lolos.. kau merekrut saya..?”
Aku mengangkat bahu, beberapa detik sebelum Nimo cepat bangkit dari duduknya, menyambar dan menarik lenganku agar berdiri. Erat ia memelukku.
“Terima kasih.. terima kasih kawan..” katanya dengan sedikit isak yang kudengar.
Sesuatu yang pernah mati tumbuh lagi. Ia menggeliat sejak aku menatapnya.
“Ini akan menjadi kerjasama yang luar biasa,” katanya antusias. Beberapa kali menyentuh pundakku.
“Ya, kerjasama luar biasa akan dimulai dengan cara kau bekerja sebagai tenaga freelance,” kataku kaku, gusar dengan kebohongan yang mulai membiasa.
Freelance?” dia memekik kaget. Mata dalam pedihnya membinar lagi dan aku lumpuh. “Tidak membebani karyawan dengan pakaian eksekutif.. ya itu yang saya cari..”
Kebohongan menjabat tanganku lebih erat. Kegilaan menderaku rapat. Apa lagi yang bisa kulakukan agar tak bisa membiarkannya lebih lama, kecuali.. menikmatinya? Kegilaan itu?



0 komentar:

Posting Komentar