Sebentar lagi
hujan, ya, tak salah lagi, sebentar lagi pasti hujan. Hawa panas beradu dengan
awan-awan gelap yang menutupi hamparan langit Jakarta. Apalagi namanya kalau
itu bukan pertanda akan datangnya hujan. Dan lihat saja, butiran-butiran bening
itu sudah memecah ruah pada pelataran bumi. Membasahinya tanpa ampun.
"Maaf, tidak membawa payung?" tanya
seseorang di sampingku. Aku menggeleng tanpa menoleh. Aku tak mempedulikan
apapun kecuali ujung celanaku yang kecipratan tanah lumpur.
"Maaf, apakah saya nampak membawa
benda-benda yang anda maksud," selorohku kesal, kali ini kupaksa untuk
menoleh. Melihat siapa si empunya suara bertanya itu. Dia tersenyum.
"Barang kali anda menyimpan payung atau
apapun di kantong anda,"
"Langsung saja bilang kalau saya mirip
seperti doraemon, itu sedikit mengurangi beban kekurang ajaran anda,"
balasku kesal.
Laki-laki ini kembali tersenyum.
"Masih Kenny yang dulu," ia menarik
tanganku. Membawanya dalam erat jabatannya. "Bahkan masalah yang sama,
ingatan yang lemah untuk teman lama."
Tunggu! Teman lama?
"Nimo Hendarto," katanya
mengingatkanku.
"Alamaakk!! Sudah besar kau
rupanya," pekikku menghambur kedalam dekapannya, tak lama, hanya
formalitas kedekatan sahabat lama saja.
"Sedang apa kau di sini? Bukannya aku
dengar kau menikah dengan Sarita? Anak pengusaha garmen itu?"
"Ah, benar. Aku memang menikah
dengannya."
"Lalu kenapa kau berdiri di sini?
Bukankah seharusnya kau tinggal duduk mentereng di belakang jok, ya
setidak-tidaknya Avanza."
"Bukan masalah keharusan, justru karena
aku sedang rindu dengan hujan. Seperti dulu, hujan-hujanan," ujarku sambil
bergelak. Nimo mengikutiku tertawa.
Menyesap sedikit jeda saat selarik kilat
menyambar. Refleks, kaki-kaki kami undur beberapa langkah kebelakang.
"Jadi, sedang apa kau di sini?"
tanyaku pelan.
"Mengemis pekerjaan," jawabnya
singkat.
"Kalau begitu, apa aku perlu
memberimu,"
"Sangat perlu," potongnya cepat.
"Aku memerlukan pekerjaan, Ken."
"Oh, jadi sekarang ini?"
"Ya, aku bangkrut. Tak memiliki modal
untuk kembali memulainya, Ken. Aku memang lebih beruntung karena kemarin aku
memiliki sedikit tabungan untuk menutupi hutang kepada bank. Jadi," Nimo
berhenti. Ada rona malu yang membias di wajahnya. Rona yang sama sekali berbeda
dengan masa tujuh tahun lalu saat ia melamarku untuk bergabung dengan
perusahaan advertising yang dibangunnya bersama Rara dan Aldo. Tunangan dan
calon kakak iparnya.
"Kalau begitu, kau,"
"Ya, Ken. Kami bangkrut. Dan sekarang
baik aku, Rara, dan Aldo jalan sendiri-sendiri. Aku dan Rara memutuskan tak
menyalahkan siapa pun atas hancurnya usaha kami itu. Kendati," sekali lagi
Nimo menggantung kalimatnya. Ia tersenyum nyinyir. Sebelum kemudian menunduk.
Hujan telah reda. Sekarang
kami sudah duduk di sudut kafe dengan cangkir-cangkir kopi yang telah tandas
setengahnya. Kuperhatikan, banyak sekali perubahan dalam diri Nimo. Sekarang
dia merokok. Bahkan belum lebih dari tiga puluh menit kami duduk di pojokkan kafe
ini, Nimo sudah menghabiskan dua batang rokok mild.
"Apa rasanya?" tanyaku pelan.
"Mint,"
jawabnya singkat. Pradugaku, ia tahu arah dari pertanyaanku itu, sehingga ia
tepat menjawab tanpa harus memastikan.
"Sejak kapan?"
"Tak lama setelah kebangkrutan
itu."
"Kau tak harus,"
"Bagaimana kalau kita bicara mengenai
pekerjaan saja?" potongnya cepat. Kupaksakan untuk mengangguk. "Ok.
Bagaimana dengan perusahaan ayah mertuamu? Berjalan lancar kan?"
Ah, jujur. Bukan aku enggan berempati. Namun
apa yang bisa kubagi dengannya selain dari kenyataan keadaanku. Aku bercerai
dengan Sarita yang maniak bahkan sebelum pernikahan kami memasuki masa satu
tahun. Gila saja! Mana mungkin aku tahan dengan kegilaannya itu? Aku
menikahinya dengan harapan aku bisa mencintainya, ya memang, tujuanku juga
untuk hidup lebih baik secara dia pewaris tunggal keluarga Prayoga. Namun
rupanya, aku harus menyerah diawal dan merelakan impian hidup enak tanpa banyak
susah itu setelah sekian bulan aku menjadi budak sex untuk Sarita sinting itu.
"Hei, bengong? Orang aku nunggu jawaban
kamu, eh kamu malah asyik ngelamun jorok? Menyesali waktumu yang seharusnya
tengah melahap tubuh semok Sarita ya?"
Aku hanya bisa nyengir. Apa lagi memangnya?
"Ah, bukan," jawabku lirih.
"Lalu?"
"Aku hanya sedang memikirkan posisi yang
bagus untuk seorang handal sepertimu pada perusahaan kecil keluargaku
saja," setan! Kenapa aku malah berbohong jadinya?
"Begitu ya?" tanggapnya dengan
tersenyum tersanjung. Aku kembali nyengir.
Oh, God!
Setelah kebohongan sekali itu, hari-hari berikutnya aku kembali mengumbar
kebohogan yang lain untuk Nimo. Entahlah, melihat senyum cerahnya, semakin
membuatku menjauh dari berita nyata yang harusnya aku sampaikan kepadanya. Aku
kian menumpuk kebohongan-kebohongan yang lain. Bukan saja mengenai pekerjaan,
rumah tangga, bahkan sampai tempat tinggal dan gaya hidup.
Demi cerah senyum diwajahnya, aku rela
meminimalkan biaya beras demi berkaleng beer
atau kopi dan mojok berdua dengannya di kafe. Rela naik taksi untuk bisa pulang
mengantarnya. Dan selanjutnya harus bangun lebih pagi dari biasanya agar bisa
sampai di kantor tepat waktu karena sekarang aku menjadi pecinta green peace
dadakan. Hhm, ya aku pun menjadi pejalan kaki setelah sebelumnya ngantri di
loket bus trans Jakarta. Ah,
CONTINUED..




0 komentar:
Posting Komentar