Jumat, 02 Agustus 2013

LEAVING JAKARTA



Sebentar lagi hujan, ya, tak salah lagi, sebentar lagi pasti hujan. Hawa panas beradu dengan awan-awan gelap yang menutupi hamparan langit Jakarta. Apalagi namanya kalau itu bukan pertanda akan datangnya hujan. Dan lihat saja, butiran-butiran bening itu sudah memecah ruah pada pelataran bumi. Membasahinya tanpa ampun.

"Maaf, tidak membawa payung?" tanya seseorang di sampingku. Aku menggeleng tanpa menoleh. Aku tak mempedulikan apapun kecuali ujung celanaku yang kecipratan tanah lumpur.

"Kalau jas hujan?"

"Maaf, apakah saya nampak membawa benda-benda yang anda maksud," selorohku kesal, kali ini kupaksa untuk menoleh. Melihat siapa si empunya suara bertanya itu. Dia tersenyum.

"Barang kali anda menyimpan payung atau apapun di kantong anda,"

"Langsung saja bilang kalau saya mirip seperti doraemon, itu sedikit mengurangi beban kekurang ajaran anda," balasku kesal.

Laki-laki ini kembali tersenyum.

"Masih Kenny yang dulu," ia menarik tanganku. Membawanya dalam erat jabatannya. "Bahkan masalah yang sama, ingatan yang lemah untuk teman lama."

Tunggu! Teman lama?

"Nimo Hendarto," katanya mengingatkanku.

"Alamaakk!! Sudah besar kau rupanya," pekikku menghambur kedalam dekapannya, tak lama, hanya formalitas kedekatan sahabat lama saja.

"Sedang apa kau di sini? Bukannya aku dengar kau menikah dengan Sarita? Anak pengusaha garmen itu?"

"Ah, benar. Aku memang menikah dengannya."

"Lalu kenapa kau berdiri di sini? Bukankah seharusnya kau tinggal duduk mentereng di belakang jok, ya setidak-tidaknya Avanza."

"Bukan masalah keharusan, justru karena aku sedang rindu dengan hujan. Seperti dulu, hujan-hujanan," ujarku sambil bergelak. Nimo mengikutiku tertawa.


Menyesap sedikit jeda saat selarik kilat menyambar. Refleks, kaki-kaki kami undur beberapa langkah kebelakang. 

"Jadi, sedang apa kau di sini?" tanyaku pelan.

"Mengemis pekerjaan," jawabnya singkat.

"Kalau begitu, apa aku perlu memberimu,"

"Sangat perlu," potongnya cepat. "Aku memerlukan pekerjaan, Ken."

"Oh, jadi sekarang ini?"

"Ya, aku bangkrut. Tak memiliki modal untuk kembali memulainya, Ken. Aku memang lebih beruntung karena kemarin aku memiliki sedikit tabungan untuk menutupi hutang kepada bank. Jadi," Nimo berhenti. Ada rona malu yang membias di wajahnya. Rona yang sama sekali berbeda dengan masa tujuh tahun lalu saat ia melamarku untuk bergabung dengan perusahaan advertising yang dibangunnya bersama Rara dan Aldo. Tunangan dan calon kakak iparnya.

"Kalau begitu, kau,"

"Ya, Ken. Kami bangkrut. Dan sekarang baik aku, Rara, dan Aldo jalan sendiri-sendiri. Aku dan Rara memutuskan tak menyalahkan siapa pun atas hancurnya usaha kami itu. Kendati," sekali lagi Nimo menggantung kalimatnya. Ia tersenyum nyinyir. Sebelum kemudian menunduk.


Hujan telah reda. Sekarang kami sudah duduk di sudut kafe dengan cangkir-cangkir kopi yang telah tandas setengahnya. Kuperhatikan, banyak sekali perubahan dalam diri Nimo. Sekarang dia merokok. Bahkan belum lebih dari tiga puluh menit kami duduk di pojokkan kafe ini, Nimo sudah menghabiskan dua batang rokok mild.

"Apa rasanya?" tanyaku pelan.

"Mint," jawabnya singkat. Pradugaku, ia tahu arah dari pertanyaanku itu, sehingga ia tepat menjawab tanpa harus memastikan.

"Sejak kapan?"

"Tak lama setelah kebangkrutan itu."

"Kau tak harus,"

"Bagaimana kalau kita bicara mengenai pekerjaan saja?" potongnya cepat. Kupaksakan untuk mengangguk. "Ok. Bagaimana dengan perusahaan ayah mertuamu? Berjalan lancar kan?"


Ah, jujur. Bukan aku enggan berempati. Namun apa yang bisa kubagi dengannya selain dari kenyataan keadaanku. Aku bercerai dengan Sarita yang maniak bahkan sebelum pernikahan kami memasuki masa satu tahun. Gila saja! Mana mungkin aku tahan dengan kegilaannya itu? Aku menikahinya dengan harapan aku bisa mencintainya, ya memang, tujuanku juga untuk hidup lebih baik secara dia pewaris tunggal keluarga Prayoga. Namun rupanya, aku harus menyerah diawal dan merelakan impian hidup enak tanpa banyak susah itu setelah sekian bulan aku menjadi budak sex untuk Sarita sinting itu.

"Hei, bengong? Orang aku nunggu jawaban kamu, eh kamu malah asyik ngelamun jorok? Menyesali waktumu yang seharusnya tengah melahap tubuh semok Sarita ya?"


Aku hanya bisa nyengir. Apa lagi memangnya?


"Ah, bukan," jawabku lirih.





"Lalu?"

"Aku hanya sedang memikirkan posisi yang bagus untuk seorang handal sepertimu pada perusahaan kecil keluargaku saja," setan! Kenapa aku malah berbohong jadinya?

"Begitu ya?" tanggapnya dengan tersenyum tersanjung. Aku kembali nyengir.


Oh, God! Setelah kebohongan sekali itu, hari-hari berikutnya aku kembali mengumbar kebohogan yang lain untuk Nimo. Entahlah, melihat senyum cerahnya, semakin membuatku menjauh dari berita nyata yang harusnya aku sampaikan kepadanya. Aku kian menumpuk kebohongan-kebohongan yang lain. Bukan saja mengenai pekerjaan, rumah tangga, bahkan sampai tempat tinggal dan gaya hidup.

Demi cerah senyum diwajahnya, aku rela meminimalkan biaya beras demi berkaleng beer atau kopi dan mojok berdua dengannya di kafe. Rela naik taksi untuk bisa pulang mengantarnya. Dan selanjutnya harus bangun lebih pagi dari biasanya agar bisa sampai di kantor tepat waktu karena sekarang aku menjadi pecinta green peace dadakan. Hhm, ya aku pun menjadi pejalan kaki setelah sebelumnya ngantri di loket bus trans Jakarta. Ah,



CONTINUED..

0 komentar:

Posting Komentar