Setiap pagi, antara
pukul tujuh sampai pukul delapan, dia akan lewat berjalan di jalanan kecil di
depan rumah saya. Itulah jam di mana saya akan memperoleh kembali semangat
hidup saya. Kendati hanya sebuah mimpi, sebuah khayalan, dan saya telah
membatasi diri untuk tidak terlampau tinggi mengkhayal, akan tetapi saya
mengakui (paling tidak kepada diri saya sendiri) bahwa dari sanalah sokongan
hidup saya, saya dapatkan. Dialah alasan kenapa saya bertahan, melawan nyeri
dan ngilu di sekujur tubuh. Bahkan perih pada kedua mata saya kala disabet
kilau cahaya yang memancar dari tubuhnya.
Dia adalah Sumirah.
Janda dari pernikahan saya yang ke tiga. Pernikahan yang didasari oleh persamaan
kisah pilu apa yang sama-sama kami alami.
Sumirah adalah anak
dari rekan seperjuangan saya di Semarang, saat melawan penjajah pada
pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari itu dan mereka berasal
dari Wonogiri.
Saat rekan saya gugur,
ia dibawa Emaknya datang ke rumah orang tua saya dan menitipkannya di sana.
Namun karena keadaan, orang tua saya melarang Emaknya yang hendak kembali ke
Wonogiri dan mempersilahkan mereka untuk tinggal bersama kami, sementara ia
bisa membantu Emak dan Bapak bekerja di sawah.
Seiring berjalannya
waktu, Sumirah tumbuh menjadi gadis yang ayu dan pintar. Manut kepada orang tua
sekaligus ringan tangan. Dan sekalipun keayuannya itu tidak lah menjadikan
dirinya sebagai kembang desa, paling tidak Sumirah telah menjadi
rebutan-rebutan pemuda kampung, bahkan para pemuda yang pergi merantau ke luar
kota atau pulau. Baik mereka yang pergi untuk bekerja maupun melanjutkan studi.
Konon yang mejadikan
Sumirah sebagai rebutan para pemuda kampuing adalah karena keayuan dan
kepintaran luar dalamnya. Tidak seperti yang dikatakan teman-temannya yang
sirik dan menuduhnya telah memakai susuk atau ilmu pengasihan.
“Dunia akherat aku
ndhak slamet kalau aku menggunakan cara picik seperti itu, De,” jelasnya kepada
saya. Kala itu beberapa menit setelah ia dilabrak Suharti dan orang tuanya,
datang ke rumah dan menuduhnya telah menjadi biang kerok dalam hubungan Suharti
dengan Rastono.
Sungguh seakar-akarnya
kami sekeluarga lebih mempercayainya. Sama sekali tak ada keraguan di sana.
Terlebih khusus bagi saya, telah saya dapati kenyataan apa dalam diri Sumirah
yang membuat saya sangat yakin bahwa ia tak melakukan hal keji seperti itu.
Bahwa dirinya pun tidak akan berpaling kepada lelaki yang lain, kacuali hanya
dia menambatkan hatinya kepada Handoko. Ya, Handoko, anak sulung saya dari istri
pertama yang tengah belajar ilmu kedokteran di Yogya.
Telah sejak lama. Sejak
mereka berdua untuk kali pertama tahu apa arti rasa malu, sebenarnya mereka
telah mengikat hati mereka. Bahkan di malam hari, setelah siang di mana Handoko
mendapat kabar dirinya diterima di fakultas kedokteran, diam-diam mereka
mengindap-indap pergi ke sawah dan menuju gubug di sana.
Pikiran dewasa siapa
pun tentu akan berpikir ke arah sana, kendati pun siang atau malam, sawah yang
tidak melulu ditanami dengan padi dan singkong itu telah menjadi arena bermain
yang paling mengasyikan. Apalagi malam itu tanggal lima belas dalam penanggalan
Jawa. Bulan bersinar cerah dan orang-orang turun ke sawah untuk obor jangkrik
atau katak di ladang padi.
Dari sekian bukti itu
semakin mengukuhkan kepercayaan diri saya terhadapnya. Sampai pada akhirnya di
satu hari, sekitar beberapa bulan semenjak Handoko memperoleh gelar dokternya
dan ia telah mengkaryakan dirinya sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit
milik pemerintah di kabupaten Pati, kedua mereka secara terang-terangan
mengakui bahwa adanya hubungan khusus di antara mereka.
Lalu, mendapat restu
dan persetujuan pada hari itu juga, mereka lantas melakukan proses lamaran
terlebih dahulu satu bulan kemudian. Disusul dengan rencana akad nikah dan
resepsinya yang sesuai rencana akan digelar tiga bulan ke depan.
Tak ada hambatan
berarti selama menjalankan persiapan pernikahan mereka. Kendati tahun 1966,
kondisi tanah air masih sedikit karut marut dengan adanya sisa-sisa para
pemberontak yang masih sembunyi-sembunyi dan masih berupaya menjalankan agresi
mereka, namun rencana pernikahan mereka selamat sampai kemudian mereka resmi
menjadi suami istri.
Hingga satu tahun
pernikahan dan mereka belum juga dikaruniai momongan, musibah mulai berdatangan
menghampiri keluarga kami. Saat itu bulam Muharam, dan istri saya hendak pulang
ke Tegal menjenguk orang tuanya. Hanya diantar oleh Handoko, istri saya
berangkat ke Tegal menggunakan bus. Waktu itu saya tak turut karena baru saja
memulai bisnis baru, yakni pembudi dayaan ikan bandeng.
Dalam perjalanan
pulang, terjadi kecelakaan di jalur pantura tepatnya di perbatasan antara
Pemalang dan Pekalongan. Bus yang mereka tumpangi oleng akibat pecah ban.
Kecelakaan itu merenggut dua orang anggota keluarga kami sekaligus. Istri saya
meninggal di tempat akibat dadanya tertembus pecahan kaca. Sedangkan Handoko
meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Keterpukulan Sumirah
membuatnya hampir gila. Bertahun-tahun ia seperti memusuhi Tuhan. Menghujatnya
karena selain tidak memberikan keturunan dari Handoko, pun telah diambilnya
pula dari pelukannya.
Saya sendiri tersadar
melihat bagaimana kondisinya, tidaklah seharusnya saya terus menerus
terkungkung dalam kesedihan. Kasihan Sumirah kalau saya terdiam terus dalam
perasaan merana. Bukankah hal itu hanya akan membuatnya senantiasa teringat
dengan luka-lukanya?
Maka saya putuskan
untuk kembali menikah. Dengan Wilujeng, sepupu jauh dari Sawitri, sepupu
jauhnya atas saran dari Emak juga saudara-saudara saya yang lainnya. Dan yang
paling penting selain untuk membangkitkan semangat hidup Sumirah, hal ini
karena Rahayu, anak bungsu saya yang kala itu baru berusia tiga tahun.
Beberapa hari setelah
menikah, Sumirah yang masih tinggal di rumah kami, datang ke lokasi tambak
tempat budi daya ikan bandeng usaha saya membawakan makan siang. Saat itu
pertengahan musim kemarau. Udara Pati panas menggarang, dan biasanya Wilujeng
lah yang membawakan makan siang untuk saya, namun karena Rahayu sedang sakit
cacar, maka Sumirah lah yang membawakan makan siang untuk saya.
“Rahayu sedang
digendong Wak Lujeng tadi, De,” kata Sumirah datar, mengabaikan tawaran saya
untuk ikut serta makan bersama dengan saya. “Tadinya dia minta ikut ke sini.
Tapi tentu Wak Lujeng melarangnya.”
“Ya, aku memang sudah berpesan
agar Rahayu tidak dibiarkan bermain di luar. Dan saku pun sudah berpesan kalau
Rahayu senang digendong ketika dia sakit.”
Sumirah tersenyum
samar. Menoleh dan menatap saya lekat-lekat. Bibirnya bergerak-gerak. Bukan
tersenyum, bukan pula sedang mengatakan sesuatu, meski saya telah membaca bahwa
bibirnya yang bergerak-gerak itu menyebut satu nama, “Mas Han”.
Lalu ia berpaling.
Membuang pandangannya ke tengah-tengah tambak. Rambut hitam lebatnya tidak ia
gelung. Melainkan dibiarkan jatuh tergerai di belakang punggungnya.
“De Witri melahirkan
Rahayu sepekan setelah pernikahan saya dengan Mas Han,” ia menoleh lagi dan
sepintas saya melihat sudut-sudut bibirnya tertarik. Sumirah tersenyum.
Hening. Sejenak
pandangan kami saling bertaut. Matanya yang kosong menjelaskan banyak hal
tentang luka. Tentang lara yang tengah berjelaga di atas kepalanya.
Perlahan namun pasti,
saya merasakan ada sesuatu yang mendesir sangat pelan dan lembut di relung hati
saya. Meremang dan memelintir sebuah rasa penyesalan. Akan tetapi menyesal
terhadap apakah? Itu yang tidak saya ketahui. Saya mencari-cari tapi tak
ketemu. Berhari-hari, memasuki bulan hingga tahun, perncarian saya tak menemui
hasil.
Hingga di suatu malam,
saya mendapati Wilujeng berperangai lain. Ia menolak untuk saya sentuh. Dan
jika paksa untuk mengingat-ingat, ternyata perubahan sikapnya telah muncul
semenjak beberapa bulan belakangan. Dan ia pun senantiasa bersikap culas kepada
Sumirah. Pembawaannya kasar dan ia menjadi suka marah-marah tak jelas.
“Kenapa tidak kau
datangi saja Sumirah? Kau selalu menyebut-nyebut namanya di dalam tidurmu. Kau
juga gigih membela jika dia kena sindir sebagai janda gatal,” Wilujeng berkata
tajam ketika saya tegur kenapa ai tidur di lantai?
Oh, sungguh saya merasa
tidak tertuduh oleh perkataannya itu. Justru sebaliknya,s aya telah disadarkan
bahwa itulah yangs aya cari. Itulah jawabannya. Ya, Sumirah. Saya menyesal
kenapa bukan dia saja yang saya nikahi? Bahwa persinggungan kami dalam
masa-masa suram itu telah melibatkan perasaan intim dan sentimentil. Oh..
Sejak malam itu,
perangai Wilujeng kian mejadi-jadi. Ada saja sesuatu yang membuat Sumirah kena
caci dan makiannya. Bahkan sempat saya mendapat penuturan dari orang-orang
bahwa Wilujeng sempat menampar Sumirah. Hal itu diperkuat dengan permintaannya
untuk mengusir Sumirah dari rumah.
Akan tetapi, sejauh
saya tidak melihat sendiri dari perlakuan kasar Wilujeng terhadapnya yang
melibatkan fisik, paling tidak sampai saya melihatnya secara langsung
mengintimidasi Sumirah dan ia membalas kata-kata kasarnya, saya hanya tinggal
diam. Bahkan saya merasa bahwa kediaman saya itu adalah tindakan yang paling
aman ketimbang bersuara namun jadinya malah berat sebelah.
Hal itu saya lakukan
karena saya sadar diri. Bahwa saya membutuhkan Wilujeng karena Rahayu telah
terbiasa dengannya. Sedangkan saya tak bisa melihat siapa pun kecuali hanya ada
Sumirah dalam pandangan dan khayal benak saya.
Ketika bulan terus
berlanjut, dan kebencian Wilujeng akhirnya memuncak. Tak bisa lagi ia tahan.
Hingga kemudian datang kepada saya sebuah permintaan cerai darinya. Lalu
seenteng orang buang hajat, saya pun menjatuhkan talak kepadanya. Saat itu juga
Wilujeng berkemas. Pergi membawa luka dan kemarahannya yang hingga kini saya
telah mendengarnya tidak lah pernah habis. Sampai mati (ia mendahului kami
semua) dia bawa amara dan kebenciannya itu ke liang lahat.
Tiga bulan setelah
pernikahan kami, “pengambil alihan” Rahayu ke tangan Sumirah ia jadikan sebagai
alasan untuk menerima pinangan saya menjadikannya istri. Meski tidak sedikit
dari kedua pihak keluarga kami, bahkan dari pihak keluarga Sawitri, namun
perasaa-perasaan telah mengaburkan mata dan telinga. Hingga kemudian nama kami
pun resmi tercatat di KUA sebagai sepasang suami istri.
Di antara sekian
kecocokan yang kami sebut-sebut, keyakinan bahwa kami adalah jodoh terakhir
untuk masing-masing kami dan kami menyebutnya bahwa begitulah takdir. Jalan
hidup yang tak mampu dielak oleh apa pun, termasuk di dalamnya bibit darah
Handoko yang juga masih mengalir di dalam nadi hidup saya.
Berpuluh tahun
keyakinan bahwa pernikahan kami adalah sebuah takdir semakin menguat meski
kemudian diketahui Sumirah mandul.
Sampai akhirnya badai
kebali datang dan menghantam keutuhan rumah kami, seperti dulu pernah meluluh
lantakannya. Banyak suara-suara sumbang yang menyatakan bahwa kemandulan
Sumirah itu karena karma. Karma oleh karena saya telah menyia-nyiakan Wilujeng
demi menikahi janda dari anak sendiri. Bahkan sebelum mangkat, Emak saya
berpesan untuk segera menceraikan Sumirah. Karena jikalau tidak, maka saya akan
menerima lebih banyak tulah.
Tetapi saya berteguh
hati. Menolak apa itu karma karena saya percaya dengan kuasa Tuhan. Hanya saja
lantas keteguhan hati saya tidak mendapatkan dukungan dari Sumirah. Ia percaya
dengan apa itu karma begitu ia mulai sakit-sakitan. Dan penyakitnya itu, ia
datang dan pergi tanpa bisa diketahui apakah sakitnya itu?
“Kalau sampeyan
kasihan, tolong ceraikan aku, Kang,” retihnya tidak hanya cukup sekali. Bahkan
adakalanya ia menyebut nama saya dengan sebutan penghormatan “De”, seperti
sebelum ia saya nikahi.
Sumirah mendapatkan
banyak dukungan meminta cerai kepada saya. Bahkan Rahayu yang telah berusia
dewasa pun mendukungnya. Dengan perasaan giris saya mengabulkan permintaan
cerainya. Sakitnya bukan kepalang melebihi dari perasaan kehilangan Sawitri
tempo dulu.
Rasa sakit masih tumbuh
subur hingga kini usia saya mendekati seabad. Semakin perih karena setiap saat
saya hanya bisa melihatnya saja lewat di depan rumah. Ia pulang pergi ke pabrik
kacang menjual tenaganya di sana, paska ia keluar dari rumah saya. Menikah lagi
dengan seorang duda yang kini pun telah berpulang.
Sementara itu saya
hanya bisa memandanginya dari teras rumah dengan rasa sakit yang digilas
berjuta khayal dan ketakutan. Mengkhayal dirinya akan kembali bersedia (meski
hanya) tinggal di rumah saya dengan posisi yang sama seperti dulu ketika ia
belum memulai sebuah ikatan intim dari pernikahannya dengan Handoko. Kemudian
dengan saya. Ah, kerinduan yang hanya bisa saya khayalkan pada muara hidup saya
di usia senja.
***





