Senin, 29 Juli 2013

MUARA TAKDIR

Setiap pagi, antara pukul tujuh sampai pukul delapan, dia akan lewat berjalan di jalanan kecil di depan rumah saya. Itulah jam di mana saya akan memperoleh kembali semangat hidup saya. Kendati hanya sebuah mimpi, sebuah khayalan, dan saya telah membatasi diri untuk tidak terlampau tinggi mengkhayal, akan tetapi saya mengakui (paling tidak kepada diri saya sendiri) bahwa dari sanalah sokongan hidup saya, saya dapatkan. Dialah alasan kenapa saya bertahan, melawan nyeri dan ngilu di sekujur tubuh. Bahkan perih pada kedua mata saya kala disabet kilau cahaya yang memancar dari tubuhnya.
Dia adalah Sumirah. Janda dari pernikahan saya yang ke tiga. Pernikahan yang didasari oleh persamaan kisah pilu apa yang sama-sama kami alami.
Sumirah adalah anak dari rekan seperjuangan saya di Semarang, saat melawan penjajah pada pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari itu dan mereka berasal dari Wonogiri.
Saat rekan saya gugur, ia dibawa Emaknya datang ke rumah orang tua saya dan menitipkannya di sana. Namun karena keadaan, orang tua saya melarang Emaknya yang hendak kembali ke Wonogiri dan mempersilahkan mereka untuk tinggal bersama kami, sementara ia bisa membantu Emak dan Bapak bekerja di sawah.
Seiring berjalannya waktu, Sumirah tumbuh menjadi gadis yang ayu dan pintar. Manut kepada orang tua sekaligus ringan tangan. Dan sekalipun keayuannya itu tidak lah menjadikan dirinya sebagai kembang desa, paling tidak Sumirah telah menjadi rebutan-rebutan pemuda kampung, bahkan para pemuda yang pergi merantau ke luar kota atau pulau. Baik mereka yang pergi untuk bekerja maupun melanjutkan studi.
Konon yang mejadikan Sumirah sebagai rebutan para pemuda kampuing adalah karena keayuan dan kepintaran luar dalamnya. Tidak seperti yang dikatakan teman-temannya yang sirik dan menuduhnya telah memakai susuk atau ilmu pengasihan.
“Dunia akherat aku ndhak slamet kalau aku menggunakan cara picik seperti itu, De,” jelasnya kepada saya. Kala itu beberapa menit setelah ia dilabrak Suharti dan orang tuanya, datang ke rumah dan menuduhnya telah menjadi biang kerok dalam hubungan Suharti dengan Rastono.
Sungguh seakar-akarnya kami sekeluarga lebih mempercayainya. Sama sekali tak ada keraguan di sana. Terlebih khusus bagi saya, telah saya dapati kenyataan apa dalam diri Sumirah yang membuat saya sangat yakin bahwa ia tak melakukan hal keji seperti itu. Bahwa dirinya pun tidak akan berpaling kepada lelaki yang lain, kacuali hanya dia menambatkan hatinya kepada Handoko. Ya, Handoko, anak sulung saya dari istri pertama yang tengah belajar ilmu kedokteran di Yogya.
Telah sejak lama. Sejak mereka berdua untuk kali pertama tahu apa arti rasa malu, sebenarnya mereka telah mengikat hati mereka. Bahkan di malam hari, setelah siang di mana Handoko mendapat kabar dirinya diterima di fakultas kedokteran, diam-diam mereka mengindap-indap pergi ke sawah dan menuju gubug di sana.
Pikiran dewasa siapa pun tentu akan berpikir ke arah sana, kendati pun siang atau malam, sawah yang tidak melulu ditanami dengan padi dan singkong itu telah menjadi arena bermain yang paling mengasyikan. Apalagi malam itu tanggal lima belas dalam penanggalan Jawa. Bulan bersinar cerah dan orang-orang turun ke sawah untuk obor jangkrik atau katak di ladang padi.
Dari sekian bukti itu semakin mengukuhkan kepercayaan diri saya terhadapnya. Sampai pada akhirnya di satu hari, sekitar beberapa bulan semenjak Handoko memperoleh gelar dokternya dan ia telah mengkaryakan dirinya sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit milik pemerintah di kabupaten Pati, kedua mereka secara terang-terangan mengakui bahwa adanya hubungan khusus di antara mereka.
Lalu, mendapat restu dan persetujuan pada hari itu juga, mereka lantas melakukan proses lamaran terlebih dahulu satu bulan kemudian. Disusul dengan rencana akad nikah dan resepsinya yang sesuai rencana akan digelar tiga bulan ke depan.
Tak ada hambatan berarti selama menjalankan persiapan pernikahan mereka. Kendati tahun 1966, kondisi tanah air masih sedikit karut marut dengan adanya sisa-sisa para pemberontak yang masih sembunyi-sembunyi dan masih berupaya menjalankan agresi mereka, namun rencana pernikahan mereka selamat sampai kemudian mereka resmi menjadi suami istri.
Hingga satu tahun pernikahan dan mereka belum juga dikaruniai momongan, musibah mulai berdatangan menghampiri keluarga kami. Saat itu bulam Muharam, dan istri saya hendak pulang ke Tegal menjenguk orang tuanya. Hanya diantar oleh Handoko, istri saya berangkat ke Tegal menggunakan bus. Waktu itu saya tak turut karena baru saja memulai bisnis baru, yakni pembudi dayaan ikan bandeng.
Dalam perjalanan pulang, terjadi kecelakaan di jalur pantura tepatnya di perbatasan antara Pemalang dan Pekalongan. Bus yang mereka tumpangi oleng akibat pecah ban. Kecelakaan itu merenggut dua orang anggota keluarga kami sekaligus. Istri saya meninggal di tempat akibat dadanya tertembus pecahan kaca. Sedangkan Handoko meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Keterpukulan Sumirah membuatnya hampir gila. Bertahun-tahun ia seperti memusuhi Tuhan. Menghujatnya karena selain tidak memberikan keturunan dari Handoko, pun telah diambilnya pula dari pelukannya.
Saya sendiri tersadar melihat bagaimana kondisinya, tidaklah seharusnya saya terus menerus terkungkung dalam kesedihan. Kasihan Sumirah kalau saya terdiam terus dalam perasaan merana. Bukankah hal itu hanya akan membuatnya senantiasa teringat dengan luka-lukanya?
Maka saya putuskan untuk kembali menikah. Dengan Wilujeng, sepupu jauh dari Sawitri, sepupu jauhnya atas saran dari Emak juga saudara-saudara saya yang lainnya. Dan yang paling penting selain untuk membangkitkan semangat hidup Sumirah, hal ini karena Rahayu, anak bungsu saya yang kala itu baru berusia tiga tahun.
Beberapa hari setelah menikah, Sumirah yang masih tinggal di rumah kami, datang ke lokasi tambak tempat budi daya ikan bandeng usaha saya membawakan makan siang. Saat itu pertengahan musim kemarau. Udara Pati panas menggarang, dan biasanya Wilujeng lah yang membawakan makan siang untuk saya, namun karena Rahayu sedang sakit cacar, maka Sumirah lah yang membawakan makan siang untuk saya.
“Rahayu sedang digendong Wak Lujeng tadi, De,” kata Sumirah datar, mengabaikan tawaran saya untuk ikut serta makan bersama dengan saya. “Tadinya dia minta ikut ke sini. Tapi tentu Wak Lujeng melarangnya.”
“Ya, aku memang sudah berpesan agar Rahayu tidak dibiarkan bermain di luar. Dan saku pun sudah berpesan kalau Rahayu senang digendong ketika dia sakit.”
Sumirah tersenyum samar. Menoleh dan menatap saya lekat-lekat. Bibirnya bergerak-gerak. Bukan tersenyum, bukan pula sedang mengatakan sesuatu, meski saya telah membaca bahwa bibirnya yang bergerak-gerak itu menyebut satu nama, “Mas Han”.
Lalu ia berpaling. Membuang pandangannya ke tengah-tengah tambak. Rambut hitam lebatnya tidak ia gelung. Melainkan dibiarkan jatuh tergerai di belakang punggungnya.
“De Witri melahirkan Rahayu sepekan setelah pernikahan saya dengan Mas Han,” ia menoleh lagi dan sepintas saya melihat sudut-sudut bibirnya tertarik. Sumirah tersenyum.
Hening. Sejenak pandangan kami saling bertaut. Matanya yang kosong menjelaskan banyak hal tentang luka. Tentang lara yang tengah berjelaga di atas kepalanya.
Perlahan namun pasti, saya merasakan ada sesuatu yang mendesir sangat pelan dan lembut di relung hati saya. Meremang dan memelintir sebuah rasa penyesalan. Akan tetapi menyesal terhadap apakah? Itu yang tidak saya ketahui. Saya mencari-cari tapi tak ketemu. Berhari-hari, memasuki bulan hingga tahun, perncarian saya tak menemui hasil.
Hingga di suatu malam, saya mendapati Wilujeng berperangai lain. Ia menolak untuk saya sentuh. Dan jika paksa untuk mengingat-ingat, ternyata perubahan sikapnya telah muncul semenjak beberapa bulan belakangan. Dan ia pun senantiasa bersikap culas kepada Sumirah. Pembawaannya kasar dan ia menjadi suka marah-marah tak jelas.
“Kenapa tidak kau datangi saja Sumirah? Kau selalu menyebut-nyebut namanya di dalam tidurmu. Kau juga gigih membela jika dia kena sindir sebagai janda gatal,” Wilujeng berkata tajam ketika saya tegur kenapa ai tidur di lantai?
Oh, sungguh saya merasa tidak tertuduh oleh perkataannya itu. Justru sebaliknya,s aya telah disadarkan bahwa itulah yangs aya cari. Itulah jawabannya. Ya, Sumirah. Saya menyesal kenapa bukan dia saja yang saya nikahi? Bahwa persinggungan kami dalam masa-masa suram itu telah melibatkan perasaan intim dan sentimentil. Oh..
Sejak malam itu, perangai Wilujeng kian mejadi-jadi. Ada saja sesuatu yang membuat Sumirah kena caci dan makiannya. Bahkan sempat saya mendapat penuturan dari orang-orang bahwa Wilujeng sempat menampar Sumirah. Hal itu diperkuat dengan permintaannya untuk mengusir Sumirah dari rumah.
Akan tetapi, sejauh saya tidak melihat sendiri dari perlakuan kasar Wilujeng terhadapnya yang melibatkan fisik, paling tidak sampai saya melihatnya secara langsung mengintimidasi Sumirah dan ia membalas kata-kata kasarnya, saya hanya tinggal diam. Bahkan saya merasa bahwa kediaman saya itu adalah tindakan yang paling aman ketimbang bersuara namun jadinya malah berat sebelah.
Hal itu saya lakukan karena saya sadar diri. Bahwa saya membutuhkan Wilujeng karena Rahayu telah terbiasa dengannya. Sedangkan saya tak bisa melihat siapa pun kecuali hanya ada Sumirah dalam pandangan dan khayal benak saya.
Ketika bulan terus berlanjut, dan kebencian Wilujeng akhirnya memuncak. Tak bisa lagi ia tahan. Hingga kemudian datang kepada saya sebuah permintaan cerai darinya. Lalu seenteng orang buang hajat, saya pun menjatuhkan talak kepadanya. Saat itu juga Wilujeng berkemas. Pergi membawa luka dan kemarahannya yang hingga kini saya telah mendengarnya tidak lah pernah habis. Sampai mati (ia mendahului kami semua) dia bawa amara dan kebenciannya itu ke liang lahat.
Tiga bulan setelah pernikahan kami, “pengambil alihan” Rahayu ke tangan Sumirah ia jadikan sebagai alasan untuk menerima pinangan saya menjadikannya istri. Meski tidak sedikit dari kedua pihak keluarga kami, bahkan dari pihak keluarga Sawitri, namun perasaa-perasaan telah mengaburkan mata dan telinga. Hingga kemudian nama kami pun resmi tercatat di KUA sebagai sepasang suami istri.
Di antara sekian kecocokan yang kami sebut-sebut, keyakinan bahwa kami adalah jodoh terakhir untuk masing-masing kami dan kami menyebutnya bahwa begitulah takdir. Jalan hidup yang tak mampu dielak oleh apa pun, termasuk di dalamnya bibit darah Handoko yang juga masih mengalir di dalam nadi hidup saya.
Berpuluh tahun keyakinan bahwa pernikahan kami adalah sebuah takdir semakin menguat meski kemudian diketahui Sumirah mandul.
Sampai akhirnya badai kebali datang dan menghantam keutuhan rumah kami, seperti dulu pernah meluluh lantakannya. Banyak suara-suara sumbang yang menyatakan bahwa kemandulan Sumirah itu karena karma. Karma oleh karena saya telah menyia-nyiakan Wilujeng demi menikahi janda dari anak sendiri. Bahkan sebelum mangkat, Emak saya berpesan untuk segera menceraikan Sumirah. Karena jikalau tidak, maka saya akan menerima lebih banyak tulah.
Tetapi saya berteguh hati. Menolak apa itu karma karena saya percaya dengan kuasa Tuhan. Hanya saja lantas keteguhan hati saya tidak mendapatkan dukungan dari Sumirah. Ia percaya dengan apa itu karma begitu ia mulai sakit-sakitan. Dan penyakitnya itu, ia datang dan pergi tanpa bisa diketahui apakah sakitnya itu?
“Kalau sampeyan kasihan, tolong ceraikan aku, Kang,” retihnya tidak hanya cukup sekali. Bahkan adakalanya ia menyebut nama saya dengan sebutan penghormatan “De”, seperti sebelum ia saya nikahi.
Sumirah mendapatkan banyak dukungan meminta cerai kepada saya. Bahkan Rahayu yang telah berusia dewasa pun mendukungnya. Dengan perasaan giris saya mengabulkan permintaan cerainya. Sakitnya bukan kepalang melebihi dari perasaan kehilangan Sawitri tempo dulu.
Rasa sakit masih tumbuh subur hingga kini usia saya mendekati seabad. Semakin perih karena setiap saat saya hanya bisa melihatnya saja lewat di depan rumah. Ia pulang pergi ke pabrik kacang menjual tenaganya di sana, paska ia keluar dari rumah saya. Menikah lagi dengan seorang duda yang kini pun telah berpulang.
Sementara itu saya hanya bisa memandanginya dari teras rumah dengan rasa sakit yang digilas berjuta khayal dan ketakutan. Mengkhayal dirinya akan kembali bersedia (meski hanya) tinggal di rumah saya dengan posisi yang sama seperti dulu ketika ia belum memulai sebuah ikatan intim dari pernikahannya dengan Handoko. Kemudian dengan saya. Ah, kerinduan yang hanya bisa saya khayalkan pada muara hidup saya di usia senja.


***

Sabtu, 27 Juli 2013

MENYERUPAI SENJA (1)



Yang saya duga, Tedy tak tidur semalaman. Tampak dari lingkaran hitam di sekitar matanya. Semalam, saat hujan risik mengguyur Bumiayu, sebelum saya larut dengan pekerjaan saya menyunting naskah-naskah yang masuk ke surel pribadi saya, Tedy mencurahkan semua kepenatan dalam dadanya kepada kami, saya dan Mbak Arum.
Telah terbiasa baginya menjadikan kami sebagai tempat curhat. Mengenai apa saja. Bahkan ketika ia mendapatkan kencan pertamanya yang konyol, tak segan dan malu ia menceritakannya kepada kami semua. Padahal untuk saya, kami baru mengenal secara intens tidak lebih dari satu bulan, saya pindah kemari, Bumiayu-Brebes dari Bekasi untuk memenuhi undangan tawaran pekerjaan di tempat yang baru. Namun karena pembawaannya yang hangat itu, membuat waktu tak lagi menjadi batas ukur menentukan boleh tidaknya seseorang masuk lebih jauh ke dalam area pribadinya.
“Kita kan saudara,” begitu tepisnya, satu hari saya merasa Tedy telah keluar batas membuka dirinya terhadap saya yang baru ia kenal.

Dan memang begitu, seperti kepada Mbak Arum, kakak perempuan saya yang menikah dengan Mas Rivan, kakak tertua Tedy, dia sama sekali tak membedakan sikap. Kata saudara yang terucap dari bibirnya telah meniadakan jarak di antara kami semua. Itu pula yang membuat saya kian kerasan tinggal di rumah tua dengan arsitektur Belanda ini. Serumah dengan orang hangat lain selain Tedy dan Mas Rivan sendiri adalah Emak dan anak mereka berusia sepuluh tahun, Ara. Emak adalah satu-satunya orang tua mereka masih hidup. Perempuan dengan welas asih yang mampu memenuhi kerinduan saya dengan pelukan almarhumah bunda.
Kembali menyoal Tedy, lingkaran hitam di sekitar mata akibat tidak tidur semalaman adalah karena resah tengah menggalau di dalam dadanya. Menyumbar hingga pengap. Ia berkisah, bahwa kepenatan itu bukan dihasilkan dari ie telah menemukan kenyataan apa di luar sepengetahuannya mengenai Dewi, kekasihnya yang tinggal di sebuah kompleks perumahan elit di daerah Tegal Selatan. Melainkan bahwa dirinya tengah diadu dengan kejenuhan hubungan mereka yang ia nilai terlampau datar akhir-akhir ini.
“Orang berjalan butuh istirahat sejenak, Ted,” begitu yang dikatakan Mbak Atum menanggapi. “kamu butuh break, maka kamu harus break.’
Siapa tidak membenarkan kalimat menanggapi dari Mbak Arum? Setidaknya saya membenarkannya. Namun jika kemudian ia semalaman tidak tidur, tak seorang dapat memastikan bahwa sekali ini ia menolaknya. Setiap orang membutuhkan ruang gerak lebih luas dari yang diperkirakan. Jadi bukan satu kemustahilan kalau sekali ini, dia pun demikian.
“Break?” membuka kata usai mencecap kopi buatan Emak, pagi (saat ini) di dapur ia turun untuk sarapan. Di dapur, saya, Emak, dan Mbak Arum tengah membuat sarapan pagi berupa nasi goreng sayur. Dan ia menyambung lagi pembicaraan semalam tanpa harus mencari tali temalinya.
“Ya, break,” tanggap Mbak Arum dnegan konsentrasi terjaga membuat telur mata sapi pesanan mas Rivan seperti biasa untuk makan paginya. “Apa itu sebuah keputusan?” lanjut Mbak Arum bertanya.
Mencecap kopinya lagi dan ia melumat bibirnya. “Masih menimbang,” katanya sambil melirik kepada saya, kebetulan saat itu sedang menoleh.
“Masih menimbang?”
“Ya, aku butuh lebih banyak waktu untuk memastikannya. Akan break atau tidak?” Tedy beranjak dari kursinya dan berpindah posisi, berdiri menyandar tembok membeku di sisi kiri saya berdiri menghadapi kompor bersebelahan dengan Emak.
Mata lelah itu, sepintas saya menangkapnya, sungguh kontras dengan wajah putih bercahayanya. Seperti mendung menggelantung mengancam menidurkan matahari. Lingkaran itu terlihat jumawa. Ah, sebegitu bersungguh-sungguh dirinya memikirkan nasib cintanya. Tidak kalau tak ada lingkaran hitam di daerah sekitar mata dan saya mendengar ia mengeluh  telah berkali-kali keluar masuk kamar kecil. Sedikitnya setiap tiga puluh menit sekali ia menghitung menggunakan penalarannya sendiri, hanya dalam semalam.
Kemudian membandingkan dengan diri saya sendiri? Jelas ini perbandingan telak, sebab saya paling pasrah untuk urusan hati. Bukan saya menyerah akibat pernah gagal membina hubungan serius. Dan saya telah meletakkan segalanya di garisan takdir-Nya, mengenai nasib cinta saya yang tengah saya jalani saat ini.
Tetapi Mbak Arum dan Tedy, berdua mereka tidak setuju, dan mengatakan kalau apa yang saya lakukan, hanya sebuah pengalihan kata. Saya trauma sebenarnya, sedang trauma dan kemudian bersembunyi di balik kata-kata sugesti yang saya buat sendiri.
Ah, itu, saking tidak percayanya membuat saya benar-benar mempertanyakannya. Kepada diri sendiri, sehingga karena pertanyaan itu pun, saya sama sekali tak menemui jawabannya. Membuat saya sering kali kebingungan sendiri. Mencari ketetapan yang berdiam diri dan menatap dinding tebing perbukitan di belakang rumah.
Kemudian dalam masa yang seringkali itu, tak jarang saya ditarik tangan-tangan masa lalu kembali membawanya ke sana. Menemui Jonas di Bekasi. Jonas, anak dari seorang pastur yang telah begitu menggiurkan diri saya setelah dua tahun mengenalnya dan kami menjalin kasih tanpa ada pertentangan apa pun dari kedua orang tuanya kendati kami tak satu keyakinan. Tapi Jonas kini telah berada di haribaan-Nya. Benang-benang asmara kami terputus dihempas gelombang nestapa, tercerai begitu saja akibat kecelakaan maut di daerah Condet, pada saat malam pergantian tahun baru dan kami berdua merayakannya berkeliling-keliling menaiki motor gedhe bersama dengan klub motor gedhenya.
Kecelakaan maut yang telah merenggutnya dari saya. Perasaan merana yang begitu hebat, mencoba saya bebat dengan bekeras diri, menerima setiap uluran tangan mengajak saya mengarungi samudera kerlap-kerlip. Tak hanya sekali atau dua kali kekerasan hati saya justru malah menenggelamkan diri saya. Mengubur saya hidup-hidup dan lantas dibangkitkan lagi. Tak jelas apakah saya hidup atau mati?
Disadarkan bahwa saya masih hidup adalah dengan kedatangan Kristiawan. Laki-laki dengan status menggantung akibat kasus perceraiannya yang terus saja berlarut-larut. Kristiawan adalah seorang putera tunggal dan pewaris dari seorang pemilik pabrik kabel di Tangerang. Dia yang memiliki pergaulan yang luas ditambah lagi dengan background keluarga, membuatnya dikenal masyarakar bak selebriti. Paling memuncak dari ketenarannya adalah mengenai kasus perceraiannya belum tuntas dan malah diselipi dengan desas desus miring mengenai penyebab gugatan cerai sang istri. Satu yang paling mencolok adalah tuduhan yang dinyatakan seorang saksi mengatakan bahwa ia seorang laki-laki yang berorientasi seksual menyimpang. Dugaan itu pun semakin kuat karena diamini oleh sang istri.
Tetapi dari kasus itulah perkenalan kami bermula. Media tempat saya bekerja tak habis membuat berita mengenainya. Dari sana juga saya sempat memiliki satu kesimpulan dengan membenarkan bahwa jodoh akan datang dari tempat-tempat yang tak terduga. Penyebabnya, adalah satu kali akhirnya ada pemberitaan yang bertolak dengan kebenaran versi dirinya. Sehingga ia tak segan melayangkan sebuah surat somasi, meminta media kami meralat pemberitaan yang menurutnya timpang itu.
Terhitung dua kali ia menyabangi kantor redaksi media kami. Dan selama dua kali itu pula, entah karena kebetulan, kami selalu bertemu. Bertemu lagi di kesempatan yang lain. Dalam masa kasus cerainya yang tidak juga berkesudahan, kami bertemu di sebuah restoran masakan Jepang di kawasan Kebayoran. Waktu itu jauh-jauh saya datang dari Bekasi untuk mmenuhi undangan pesta ulang tahun pernikahan salah satu kawan saya. Sedang dirinya, sekali waktu ia mengaku akan mengunjungi kedua anaknya yang dibawa dan tinggal di rumah istrinya di daerah dekat restoran masakan Jepang itu.
Seperti yang dikatakannya adalah jujur, ia datang ke restoran itu bersama dengan kedua orang anaknya berusia masing-masing delapan dan lima tahun. Merasa mengenali wajah saya, Kristiawan lah yang kali pertama menyapa saya. Pun akhirnya ia meminta diri untuk bergabung bersama dengan kami, yang mana kawan saya pun tak merasa keberatan jika ia turut bergabung di sana.
Obrolan kami berlanjut. Dari sushi dan tempayaki, sampai teori mengenai daya listrik yang dialirkan oleh kilat jika ia menemui benda penghantar yang sinkron. Awal yang manis berlanjut semakin manis.
Saya sama sekali tak meletakkan keistimewaan pada diri seorang laki-laki mengenai poligami, bukan pula saya merendahkannya. Hanya saya tak membicarakan mengenai apa pun hal yang saling mengait di sana. Walau kemudian hubungan kami berlanjut semakin intens, dan ia belum juga menemui titik temu dalam kasus perceraiannya, sungguh, antara kami tak pernah menyinggung hal itu. Poligami.
Memang saya pun tak memungkiri, jika kekerasan hati saya selama kurun waktu setahun, memaksa diri berdiri tegak dalam kubangan air mata menenggelamkan kaki-kaki saya, memberikan hasil setimpal dan kebahagiaan kembali saya raih. Asa membentang dan impi ibarat layar yang terkembang. Kebahagiaan itu adakalanya berkeluh akibat sidang perceraianya itu. Hal yang seperti itu tak bisa saya elak. Karena toh saya tak lagi meragukan diri saya telah begitu mengikat dengan sukma seorang Kristiawan Budhiarto. Dia pula telah meyakinkan saya, bahkan kepada seluruh keluarganya bahwa ia tak membutuhkan waktu lama menemukan pengganti wanita yang secara hukum masih berstatus istrinya itu.
Sekarang hampir dua tahun hubungan kami, dengan sidang kasus perceraian mereka belum memutuskan cerai. Pembagian harta gono-gini menjadi hal paling ruwet menambah waktu semakin panjang dan entah akan berakhir kapan?

Sungguh bukan tidak tahu diri jika saya pernah merasa lelah. Jangan ditanya pula telah seberapa dekat diri saya dengan keluarganya begitu pula sebaliknya? Umur terkadang menakuti saya. Kadang pula malah saya menantangnya. Saya tidak meminta kejelasan yang berlebih dalam masa-masa keruh seperti sekarang ini. Akan tetapi rasanya cukup adil jika saya sedikit mempertanyakan keseriusan dari kalimat-kalimat syurganya. Memintanya segera mempercepat urusan perceraiannya. Toh saya juga sudah memasang diri. Bertolak ke belakang hubungan kami berlatar apa dari sisi Kristiawan? Sehingga jika hal terburuk (bagi saya) yang saya terima nantinya, setidaknya saya telah memasang diri. Jika ternyata mereka tidak jadi bercerai? Mereka kembali rujuk? Siapa yang bisa tahu melebihi kuasa-Nya?

Kamis, 25 Juli 2013

Suatu Sore di Peron





Sedetik saya tertegun, tubuh saya serasa kaku dan tak bisa digerakan. Ini bukan sekali-sekalinya atau baru kali pertama terjadi saat saya melihat Susanti, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai dan diterpa angin. Bahkan setelah dirinya bukan lagi menjadi milik saya seorang, dan saya melihat bagaimana perutnya yang membuncit. Oh, saya tak pernah mengingat, bahwa hanya dari mengingat namanya saja, ia masih membuat diri saya parau dan kepayang.
Sore itu sekitar pukul tiga, langit Tegal cerah dengan sedikit awan-awan yang menggantung, saya datang ke stasiun Tegal untuk menjemput  Vera, tunangan saya dalam perjalanan pulang dari Semarang, dan baru saja ia mengikuti ujian semester di salah satu universitas di kota lumpia itu.
Saya sedang duduk di peron, di kursi panjang dan menunggunya. Menghitung waktu, jika tepat, maka kereta yang membawanya pulang hanya kurang dari tiga puluh menit lagi akan sampai. Kemudian pandangan saya, entah apa yang membuat saya menoleh dan menangkap Susanti, berdiri dengan jarak dari saya tak lebih dari sepuluh sampai lima belas meter saja. Rambut ikal panjangnya yang tergerai berterbangan diterpa angin. Saya membatu, sementara ia membalas menatap saya dan tersenyum, berjalan pelan ia mendekati saya. Lalu mengulurkan tangannya menyalami saya.
“Sendirian?” tanyanya pelan sembari duduk di samping saya.
Mengangguk-angguk bodoh, tanpa sadar saya mengangkat sebelah kaki saya dan menyilangkannya. Satu dari sekian cirri khas yang adakalanya saya akan menyadari, bahwa kebiasaan itu muncul hanya pada saat-saat tertentu. Misalkan ketika saya sedang panik, saya akan menggigiti kuku. Atau dalam kondisi seperti saat ini, duduk sembari menyilangkan kaki, ah, saya telah menyebutkan alasannya.
“Menunggu siapa?” tanyanya lagi.
“Vera,” saya menjawab ringkas karena kau tahu alasannya apa?
Dan giliran Susanti yang mengangguk. Oh, tentu dia tahu soal Vera. Saya mengenalkannya beberapa waktu yang lalu ketika kami bertemu di sebuah resepsi pernikahan teman.
“Kau sendiri?”
“Mas Han pergi ke Surabaya untuk satu urusan. Dan sore ini ia pulang,” ia menjawab menjelaskan.
Sejenak kami saling diam. Bukan telah menutup percakapan yang baru saja dimulai. Akan tetapi karena handphone saya mendadak berbunyi, dari Vera, ia menelepon hanya untuk memastikan bahwa saya sudah tiba di stasiun untuk menjemputnya.
“Vera,” entah apakah penting ketika saya mengatakan hal tersebut kepada Susanti? Menjelaskan siapa yang menelepon hanya karena saya telah mengira, bahwa obrolan kami terputus dan membuatnya merasa tidak nyaman?
Kadang, kau tentu juga akan berbuat hal yang serupa, bukan? Kau tengah mengobrol dengan seseorang lalu datang seorang yang lain sebagai “pengganggu”, dan kau berusaha menjelaskan letak penting tidaknya si pengganggu itu penyebab obrolan kalian musti rehat sejenak.
“Ya, Vera,” Susanti mengangguk lagi. “Setahuku dia mengajar, bukan?”
“Ya, dia mengajar Sekolah Dasar. Dan dia juga masih sekolah.”
Senyum samar di bibirnya, dulu membuat teman-teman satu kantor senantiasa mengangkat topi kepada saya. Mengatakan bahwa kata-kata istilah pungguk merindukan bulan betul-betul maujud dalam lembaran kisah yang kami berdua arungi. Ya, rekan-rekan kerja kami, khusus yang laki-laki, siapa yang akan bisa berkedip dan mengalihka pandangannya ketika ia tersenyum?
Mereka menyebut kekasih saya, perempuan berwajah dingin dan menggoda. Tipikal angkuh dan tidak sentimentil. Sedikit banyak dari mereka berujar, bahwa Susanti adalah paket yang didambakan tiap lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya, maka saya beruntung telah mendapatkannya.
Tetapi itu dulu, lima sampai enam tahun yang lalu sebelum keberuntungan itu patah. Kami berpisah dengan sekian alasan yang tentu kalian memahami. Tanpa banyak kata, saya kalian tentu memahami jika sebuah hubungan harus diakhiri, kan?
“Jangan lupa kau bagi undanga jika kalian menikah nanti,” pintanya dengan suara, nada suara yang saya mendengarnya tidak pernah berubah. Khas wanita yang akan membuatmu selalu teringat kepada Ibu.
“Tidak akan.”
Kali ini senyumnya melebar. She’s really know my sense of humor.
“Ya, kau tidak akan lupa menulis namaku dan suami dalam daftar tamu. Itu maksudmu, kan?”
Saya menggeleng sementara dia mengangkat bahu.
“Baiklah kalau begitu, saya tidak akan memaksa,” lanjutnya sembari tersenyum.
“Ya, begitu lebih bagus bukan? Tidak memaksa. Karena aku tidak akan berbicara mengenai pernikahan.”
“Kenapa?”
“Kami baru saja bertunangan sekitar tiga atau empat Minggu yang lalu. Dan aku tak akan membicarakan mengenai pernikahan di tempat umum.”
Pandangan matanya beredar anggun. “Bisa dimengerti,” desisnya sambil mengangguk. Dan angin kembali menerbangkan anak-anak rambutnya. Aromanya seperti candu yang ditebar di pelataran taman musim semi. Aroma kembang ilalang yang ringan dan selalu mengingatkan hati dengan berjuta kerinduan.
Sementara saya, saat itu adalah kembali merupa pungguk merindu bulan. Cerita yang masih berlanjut namun kali ini tanpa lakon. Saya tidak lagi menjelma sebagai  Sang Arjuna memenangi hati Dewi Sembodro. Namun Jaka Tarub yang dipaksa rela melepas Dewi Nawang Wulan kembali ke kahyangan.
Oh, terdengar kalau saya masih mendambanya? Jika mengatakan sesuatu mengenai kejujuran, maka kalimat “mendambanya” buat saya akan lebih spesifik dan intim. Saya telah berkata mengenai tipikal yang ada pada dirinya adalah apa yang saya butuhkan. Dirinya yang saya mau.
Namun dari sekian fakta yang telah berlaku. Tentu itu membuatmu cukup paham bahwa perempuan itu, yang pernah datang dan menyaru dalam separuh jiwa dan hidup saya, nyata sekali tidaklah tercipta dari satu tulang rusuk saya. Tuhan tidak menggariskannya dalam keseluruhan hidup kami. Kecuali hanya untuk diambil pelajarannya saja.
Angin menerpa wajah saya dan menarik dari kebisuan. Susanti sedang berbicara di telepon. Wajahnya yang merona memalu, tentu ia tengah bermasyuk dengan separuh hidupnya di luar sana yang dalam perjalanan pulang. Sementara peron kian dipenuhi orang-orang yang datang dan hendak pergi, atau orang-orang yang datang untuk menjemput seorang yang lainnya.
Beberapa kali para pedagang asongan menyorongkan dagangannya menawarkan kepada kami. Kadang, ketika para pedagang asongan yang mendatangi kami adalah seseorang dengan tindak-tanduk beringas, mereka tidak segan memaksa kami untuk membeli dagangannya. Kau sendiri tahu bagaimana tuntutan ekonomi dan kondisi setiap tempat-tempat pemberangkatan angkutan umum? Entah itu stasiun atau terminal, itu adalah lahan bagi mereka mencari-cari cara untuk menyambung hidup tanpa ada pengindahan terhadap kaidah benar salah. Sehingga hasilnya adalah jauh pula kaitannya dengan konsep kebenaran, manakala kami yang mendapat tekanan seperti itu menggunakan cara-cara kami untuk membela diri. Kau setuju, tentu.
Tetapi akan menjadi lain urusannya jika hari itu menjadi hari keberuntungan bagi para tukang jualan asongan bertindak-tanduk begajul itu, jika mereka berkeberuntungan besar bertemu seseorang yang berwelas asih, ya sedikit mencontek kisah Sidharta yang rela dagingnya dimakan pemangsa, maka hanya dengan berdiri saja di samping si target (percontohan si Sidharta tadi), si target akan membeli beberapa dagangannya meski hanya sebungkus kertas tissue murah yang ketika ia dibayar dengan menggunakan uang besar dan kebetulan tidak ada atau belum ada kembaliannya, lantas beberapa butir permen lah yang dijadikan sebagai uang kembaliannya. Sungguh keberuntungan yang dobel.
“Lalu apa ruginya buatku?” kilah Susanti yang tidak setuju dengan pandangan saya ketika ia membayar untuk tisu namun permen lah yang kemudian menjadi uang kembaliannya, ya dalam hal ini Susanti lah yang menjadi percontohan Sidharta tadi. “Aku mendapatkan tisu dan permen. Dua barang ini harganya sama dengan ketika aku membelinya di warung-warung yang mangkal. Kecuali kalau aku membelinya di minimarket. Aku rasa wajar saja kan kalau ada sedikit perbedaan harga di tempat jualan yang menetap dan yang keliling?”
“Ya, khas sekali dirimu.”
“Jangan mulai.”
“Mulai apa? Memang begitu, kan?”
Pandangan Susanti terpaku. Sedetik, saya berpikir kalau dia akan tersulut emosi. Tetapi saya keliru, saya telah menyinggung sedikit tentang masa lalu kami, yang siapa saja termasuk kau, akan keberatan dan tersinggung jika sesuatu yang telah dibuang mati diungkit-ungkit kembali. Namun ia malah lepas tertawa. Seringan kembang ilalang dilandaikan nyiur sang angin.
“Mulai untuk membicarakan Cinderella Complex,” ia melanjutkan di sela mengulurkan permen dengan aneka ragam rasa dan merek di atas tangannya kepada saya. Kemudian ia berhenti tertawa dan ada sedikit keseriusan saya melihat di matanya.
Cinderella Complex sudah bertemu dengan pejantan tangguh setelah sang pejantan berhasil menebas leher sang naga penjaganya.”
Pandangan kami masih beradu. Sedetik. Sebelum kemudian Susanti mengalihkan pandangannya dan saya melihatnya menghela napas. Ia tersenyum menggeleng ketika seorang perempuan paruh baya dengan tubuh pendek ceking menawarkan dagangannya berupa gorengan yang tanpaknya sudah lembek. Kemudian perempuan paruh baya ceking itu berganti menawarkannya kepada saya. Sorotan mata dan senyum hapa-harap cemasnya memaksa ingat saya bahwa ada sekiranya lima ribu rupiah di kantung celana, uang sisa membeli bensin tadi.
Ah, ya tepat lima ribu rupiah. Saya berikan saja uang itu dan perempuan itu segera membungkus gorengan dengan kantung kertas. Sekilas saya melirik kepada Susanti, sebelah tanganya menyisir rambutnya ke belakang yang jatuh menutupi muka akibat kembali diterpa angin. Sedangkan tangannya yang lain ia mengelus perutnya yang membuncit itu.
Perempuan paruh baya itu membungkuk sangat rendah sebelum ia pergi. Lalu kami kembali kepada sudut tak nyaman yang disebabkan oleh kecerobohan saya. Saya berusaha menarikany kembali. Mengajaknya berbicara apa saja, namun ia lebih senang berbicara mengomentari gorengan yang saya beli. Ia menegaskan bahwa rasa kasihan saya terhadap perempuan paruh baya itu sama persis dengan yang dilakukannya beberapa menit yang lalu saat ia membeli kertas tisu.
Namun begitu saya tidak sepenuhnya yakin bahwa tertariknya kembali ia berbicara kepada saya, bukan karena ia senang mengungkit-ungkit. Kesannya sangat jelas bahwa ia enggan, muak, dan hanya menghargai saya saja ia kembali mau berbicara.
Saya sendiri telah menakar, bahwa kecerobohan saya mungkin tak terampuni. Seperti membuta peraturan yang saya buat sendiri, sementara hukumannya adalah orang lain yang menentukan. Sehingga rasanya harus begitu malu kepadanya yang jumawa dengan kebesaran hatinya, bahwa ia masih bersedia menanggapi saya. Menghargai saya setelah apa yang telah saya lakukan, terlepas jika itu berada di luar kendali.
Ah, menyinggung mengenai apa itu Cinderella Complex, sekalipun jika mau mengusut, justru Susanti sendiri lah yang telah menyebut-nyebut istilah itu terlebih dahulu. Membangunkan ingatan pahit terkait nama sebutan untuknya dulu. Saat dulu hubungan kami meruncing. Dengan segala ketidak berdayaan kami yang tak mampu menguasai ego diri. Lantas turut menambah-nambahi menjadi sangat kisruh adalah gunjingan-gunjingan yang menyudutkannya. Menyebutnya Cinderella Complex yang tak tahu diri. Bahwa penampilan mandirinya hanya sebuah kamuflase. Wajah dinginnya hanya serupa topeng beku.
Seperti dibangunkan dari mimpi, saat terdengar desis kereta api dari kejauhan. Lalu orang-orang mulai berdiri dan merapat ke sepanjang rel di dalam peron itu. Saya sendiri lebih mengikuti Susanti yang justru berdiri dan menyingkir ke belakang, agak menjauh dari kerapatan.
Desis kereta api terdengar semakin jelas. Lantai di bawah kaki sedikit bergetar. Wajah Susanti, ia merona merah. Tidak lagi datar dengan kesan penghindaran yang sudah untuk dielak.
“Suamiku dan tunanganmu itu satu kereta,” katanya keras-keras kepada saya. Matanya berbinar dengan wajah antara menoleh dan segera dialihkan kepada kereta yang berjalan memasuki peron. Mula-mula pelan, berdesing, lantas benar-benar berhenti dengan jarak dari muka kami sekitar lima sampai enam meter. Pintu-pintu gerbong penumpang mulai dibuka. Dan seperti laron yang keluar dari sarangnya, orang-orang mulai berdesakan keluar.
“Aku akan menunggungu di sini. Di dekat pintu masuk,” katanya lagi dengan suara gugup. Khas seorang pencinta kepada kekasihnya. “Bagaimana denganmu? Kau! Apa kau akan menjemputnya ke sana? Maju ke depan sana? Atau berdiri saja di sini denganku?”
Tidak memperdulikan apa yang keluar dari mulutnya. Oh, apakah gerangan yang menelusup di dalam rongga dada saya? Apakah itu? Iri kah? Cemburu? Entah apa yang membuat saya menarik-narik ingatan sekaligus bertanya-tanya, pernahkan ia dulu sebegitu gusarnya menanti setiap kedatangan saya di rumahnya? Pernahkah ia menggila seperti itu?
Mendadak ada penyesalan yang begitu mendalam. Wajah dinginnya, tentu bukan kamuflase bukan? Itu bukan topeng. Bagaimana pun ciri seseorang, untuk seseorang yang ia cintai, tentu ia bisa melakukan banyak hal gila. Banyak hal yang tak terduga membuat kita semakin kepayang kepadanya. Kau sependapat, kan?
Dada saya mendadak sesak. Setelah ada hantaman yang baru saya dapat setelah lebih dari lia tahun berlalu, paska saya melepasnya demi membela ego. Ah, hantaman itu sangat kuat menohok kala seorang laki-laki dengan tinggi sepantaran dengan saya, wajahnya bersih dengan mata teduh yang berbinar, berjalan keluar dari kerumunan orang-orang yang menyesak kepada kereta. Tangannya terentang menemui Susanti dan merangkulnya.
Beberapa saat saya terpaku. Cinta dan romantismenya seperti layar terkembang ditaburi jelaga rindu. Degup jantung saya mengabaikan perasaan ngilu, sebab ia tiada tempat jika diletakkan di mana pun dalam rentang hubungan saya dengannya saat ini.
Akhirnya saya berpaling dari romantisme sang mantan, kala sebuah tangan, halus menyentuh pundak saya dari belakang. Kemudian saya pun mendapat pelukan yang sama ketika menoleh. Vera memeluk saya hangat. Meski pelukan hangatnya itu, ah, tak sebanding dari pada apa yang saya rindukan dari pelukan Susanti dulu.
Vera sudah melepas pelukannya, Susanti dan suaminya mendekat. Suaminya menyalami saya dan Vera, begitu pula Susanti menyalami Vera. Hanya sebentar berbasa-basi, basa-basi yang membantu saya untuk mengaburkan rasa ngilu, yang mana Susanti coba untuk menangkapnya dari caranya ia menatap saya tajam. Tetapi saya mengelak. Mengelak memberinya apa yang ia cari sampai akhirnya kami semua berbalik dan berjalan pulang, sebelum terkahir sekali, yang saya tangkap darinya adalah sebuah lambaian tangan dan rambutnya kemnbali diterpa angin. Melunglaikan sukma saya yang senantiasa parau. Ah..
***
Tegal, 16-17 Januari 2013

Ewin Suherman



Saya (tidak) Sedang Mengenangnya





Secara tak sengaja, saya mendengar salah satu rekan kerja saya, perempuan dengan tipikal yang heboh, menceritakan kisah asmaranya yang baru saja kandas, setelah mereka menjalin hubungan selama dua tahun. Ia berkeluh kepada dua orang sahabatnya saat jam makan siang di kantin, dan saya mendengar hampir semua ceritanya sebab tempat duduk kami bersebelahan.
Akibat kandasnya hubungan mereka, perempuan dengan tubuh tinggi semampai itu menuturkan, hanya disebabkan karena tulisan status-statusnya di situs jejaring sosial facebook, yang dinilai kekasinya terlalu berlebihan. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa kalimat-kalimat romantis yang ia tulis itu bukan lain adalah ujud kasihnya yang tak terbatas dan mendalam. Sementara ia adalah tipikal perempuan yang romantis, akunya.
Ah, ya. Menggaris bawahi tipikal romantis, saya sedikit setuju dengannya, saya kerap kali, hampir saban hari malah, mendapati status-statusnya yang demikian. Ia menulis kalimat-kalimat romantis yang ada kalanya mengusik rasa iri di dalam diri saya pribadi, bahwa seandainya kekasih saya pun memiliki kepandaian mengukir kata-kata indah sepertinya. Entah keindahan dunia yang mana yang bisa kami elak?
Namun demikian, pada saat yang lain, saya pun berpikir, bahwa jika kalimat-kalimat romantis itu diteruskan dan menumpuk setiap hari. Dituliskan seolah hanya itu yang ada, bukankah ia juga akan mengundang rasa bosan pada akhirnya? Bahkan jika ukiran indah itu dituliskan dalam sebuah biduk rumah tangga sekalipun?
Mari berpikir sejenak dan tidak berpikir cupat. Bertindak jujur minimal untuk diri sendiri. Sebuah hubungan tentu akan banyak mengalami lonjakan. Karena tak ada bahtera yang tidak dihantam badai. Sementara sebuah tindakan interaksi, jika ia hanya diisi dengan laku monoton setiap hari, apakah itu akan menghasilkan sesuatu selain dari rasa jenuh? Bosan?
Ibarat tubuh, ia juga akan menolak makanan untuk sesaat isi lambung telah penuh. Lalu untuk mengisinya lagi, adalah ketika isi lambung telah mengalami masa cerna dengan sempurna. Bukankah seperti itu jika mengikuti aturan yang sebenarnya? Bukan hanya mengikuti hawa nafsu karena ia tak akan pernah ada habisnya.
Saya kembali ke kantor usai menghabiskan makan siang saya berupa nasi pecel dan es teh tanpa gula. Saya tidak menderita sakit gula atau sedang menjalani diet khusus, hanya karena memesan minuman es tanpa gula. Minuman itu saya pesan hanya karena ia telah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang ditularkan oleh salah seorang mantan kekasih yang menderita diabet hasil turunan dari orang tuanya.
Saat itu, jam makan siang belum selesai dan saya menghabiskannya dengan berselancar ke dunia maya. Terusik rasa keingin tahuan dari kebenaran cerita teman saya itu. Saya login ke akun facebook. Draft pemberitahuan hampir membuat saya meledak, membela mantan kekasih rekan kerja saya itu lalu turut meneriakinya berlebihan, sebab tak kurang dari 70 pemberitahuan datang hanya dari status-statusnya saja. Semua tulisan statusnya berupa kalimat-kalimat puitis nan mendayu-dayu. Bahwa panah cinta telah memenggal jantungnya. Jantungnya dipanggang nestapa. Ah..
Satu jam kemudian, sambil menyelesaikan pembukuan keuangan akhir tahun. Sesekali saya menoleh ke seberang meja, di mana rekan kerja saya itu masih terlihat galau. Menutup mulutnya menahan isak tangis dengan satu tangan sedang satu tangan yang lainnya tetap mengetik mengerjakan tugasnya sebagai accounting.


Sesekali pula saya menyelinap dari pekerjaan dan pergi lagi ke dunia maya. Satu tulisan galaunya berbunyi, “Buanglah mantan pada tempatnya”. Seperti terkena batunya telah meneriakinya berlebihan, kata mantan itu seolah mencolok mata saya. Masuk menembus menyeruak ke dalam dinding ingatan dan mencongkel satu ingatan mengenai satu mantan kekasih saya. Semua mantan kekasih tiba-tiba seperti dibentangkan ibaratnya ia adalah pekerjaan yang menumpuk dan harus segera saya selesaikan.
Satu ingatan adalah pada babak awal perkenalan kami. Di sebuah gedung yang telah disewa oleh pihak penyelenggara membuat acara job fair. Kami sama-sama datang dari luar kota dan melamar untuk posisi di yang sama di perusahaan yang sama pula. Kami sedang duduk mengantri untuk wawancara. Obrolan yang singkat, saya akui mengena dalam diri saya karena dia satu-satunya orang yang mengajak saya berbicara lebih lama dari yang lain sekedar menanyakan informasi-informasi. Obrolan berlanjut dua minggu kemudian ketika kami kembali dipanggil untuk menanda tangani surat kontrak kerja.
Persuaan lebih lanjut. Lenih intens. Tak ada kuasa untuk menolak bahwa telah terjalin perasaan intim yang sulit kami elak. Apalagi kami dalam keadaan masing-masing single. Setahun pertama hubungan kami lancar. Tahun kedua, usia kami memasuki dua puluh lima tahun, dan semakin mantap perasaan kami untuk membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius. Sebuah pernikahan.
Kesepakatan awal adalah bahwa saya akan tetap mengijinkannya bekerja. Dan karena ada peraturan untuk semua karyawan yang dilarang menjalin hubungan (kami berpacaran secara backstreet), maka saya yang akan mengalah keluar dari pekerjaan setelah kami menikah nanti untuk kemudian membangun usaha kecil-kecilan di bidang advertising. Kebetulan saya ada sedikit pengalaman di sana, dulu pas masih kuliah saya bekerja paruh waktu di perusahaan percetakan milik paman saya di Semarang.
Restu dari orang tuanya telah kami kantongi, saat libur lebaran dia pulang ke Padang dan saya ikut menemaninya. Untuk sesaat, saya seperti bocah lima tahun yang berharap-harap cemas akan diajak bermain menaiki komidi putar pribadi milik keluarganya. Kecemasan itu pecah saat melihat Ayahnya mengangguk mengiyakan saya turut di dalam kebahagiaan keluarganya.
 Bukan main rasanya seolah saya tengah menggenggam dunia di tangan saya. Langit biru cerah menyelimuti tubuh saya. Tapi hanya sesaat, sebelum kurang lebih dua bulan kemudian, saat lebaran haji gentian dirinya yang saya ajak pulang ke Semarang. Bermaksud mengenalkannya dan meminta restu dari orang tua saya. Tapi apa daya ketika justru pil pahit lah yang musti kami telan?
Darah ningrat begitu diagungkan oleh kedua orang tua saya. Sehingga bibit, bebet, bobot seorang calon mantu bagi mereka tidak boleh ada satu pun yang kurang. Penyakit turunan diabetesnya tak mendapat toleransi. Sehingga keberadaannya di sisi saya hanya diamini sebagai teman biasa saja. Bukan untuk hal istimewa berupa bahtera rumah tangga.
Saya sempat memberontak. Membawa serta kemarahan dalam dada saya dan kembali ke Jakarta usai hanya sehari di Semarang. Dalam perjalanan tak henti saya meyakinkannya untuk meneruskan apa yang telah kami rencakan. Tak apa saya tak mendapat restu dari orang tua. Toh yang membutuhkan wali nikah adalah pihak mempelai wanita, sementara kami telah mengantonginya.
Namun rupanya perkataan orang tua saya telah betul-betul menghancurkannya. Bahwa pernihkahan itu hanya akan membawa kepedihan bagi kami jika kami meneruskannya. Anak kami akan mengidap sakit yang sama dideritanya. Diabet itu sakit turunan. Sama sepertinya mendapat penyakit itu. Ah..
Dua hari kemudian dia menghilang. Dia tak ada di Padang atau pun di tempat-tempat kami biasa mendatanginya saat hanya berlibur berdua. Saya seperti orang gila. Saya kedanan mencarinya. Bahkan nyaris benar-benar gila. Sampai kemudian, suatu hari, tepat sebualn dua tahun kemudian, satu kabar duka dikirimkan ke alamat surat elektronik saya oleh salah seorang rekannya di Padang. Isi surat itu mengabarkannya yang telah berpulang ke haribaan-Nya.
Kepedihan dan kegilaan saya pada saat itu adalah dengan menuliskan kata-kata romantis seperti sebuah surat cinta yang tak terbalas. Di mana ada tempat dan waktu, di sana saya akan menulisnya. Setahun, dua tahun, saya masih menulisnya. Sampai hilang kebiasaan itu dan saya mulai berlapang dada mengenangnya sebagai sang mantan. Lantas membiarkan satu kebiasaan yang lain ia tularkan menyaru dalam diri saya.
Ah, kepergiannya yang dua kali dan tak terduga sama sekali. Sealur  dengan keberadaannya yang tak terduga di dalam benak saya dan ia meraja di sana. Memaksa saya untuk terus mengenangnya. Sadar atau tidak sadar. Dan dua hal perkara sadar itu, ya dan tidak, muncul bersamaan setelah mendengar (secara tidak sengaja) isak tangis merana dari seorang rekan kerja. Ia yang menangisi kisah asmaranya yang telah patah. Kemudian patahan-patahannya membentuk satu kata tegas yakni mantan, dengan untaian kalimat-kalimat luka yang dibanjiri air mata.
Sadar atau tidak sadar itu pula telah memicing rasa malu di hadapan mata saya. Bahwa saya telah meneriakinya berlebihan, walau hanya dalam hati, tetap saya telah meneriakinya. Padahal tiga tahun setengah yang lalu, dan hampir dua tahun, saya pun menangis dan gila sepertinya hari ini. Berlebihan seperti dirinya hari ini, sebab saya pernah dan terus mengenang dan menangisinya.

***