Secara
tak sengaja, saya mendengar salah satu rekan kerja saya, perempuan dengan
tipikal yang heboh, menceritakan kisah asmaranya yang baru saja kandas, setelah
mereka menjalin hubungan selama dua tahun. Ia berkeluh kepada dua orang
sahabatnya saat jam makan siang di kantin, dan saya mendengar hampir semua
ceritanya sebab tempat duduk kami bersebelahan.
Akibat
kandasnya hubungan mereka, perempuan dengan tubuh tinggi semampai itu
menuturkan, hanya disebabkan karena tulisan status-statusnya di situs jejaring
sosial facebook, yang dinilai
kekasinya terlalu berlebihan. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa
kalimat-kalimat romantis yang ia tulis itu bukan lain adalah ujud kasihnya yang
tak terbatas dan mendalam. Sementara ia adalah tipikal perempuan yang romantis,
akunya.
Ah,
ya. Menggaris bawahi tipikal romantis, saya sedikit setuju dengannya, saya
kerap kali, hampir saban hari malah, mendapati status-statusnya yang demikian.
Ia menulis kalimat-kalimat romantis yang ada kalanya mengusik rasa iri di dalam
diri saya pribadi, bahwa seandainya kekasih saya pun memiliki kepandaian
mengukir kata-kata indah sepertinya. Entah keindahan dunia yang mana yang bisa
kami elak?
Namun
demikian, pada saat yang lain, saya pun berpikir, bahwa jika kalimat-kalimat
romantis itu diteruskan dan menumpuk setiap hari. Dituliskan seolah hanya itu
yang ada, bukankah ia juga akan mengundang rasa bosan pada akhirnya? Bahkan
jika ukiran indah itu dituliskan dalam sebuah biduk rumah tangga sekalipun?
Mari
berpikir sejenak dan tidak berpikir cupat. Bertindak jujur minimal untuk diri
sendiri. Sebuah hubungan tentu akan banyak mengalami lonjakan. Karena tak ada
bahtera yang tidak dihantam badai. Sementara sebuah tindakan interaksi, jika ia
hanya diisi dengan laku monoton setiap hari, apakah itu akan menghasilkan
sesuatu selain dari rasa jenuh? Bosan?
Ibarat
tubuh, ia juga akan menolak makanan untuk sesaat isi lambung telah penuh. Lalu
untuk mengisinya lagi, adalah ketika isi lambung telah mengalami masa cerna
dengan sempurna. Bukankah seperti itu jika mengikuti aturan yang sebenarnya?
Bukan hanya mengikuti hawa nafsu karena ia tak akan pernah ada habisnya.
Saya
kembali ke kantor usai menghabiskan makan siang saya berupa nasi pecel dan es
teh tanpa gula. Saya tidak menderita sakit gula atau sedang menjalani diet
khusus, hanya karena memesan minuman es tanpa gula. Minuman itu saya pesan
hanya karena ia telah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang ditularkan oleh salah
seorang mantan kekasih yang menderita diabet hasil turunan dari orang tuanya.
Saat
itu, jam makan siang belum selesai dan saya menghabiskannya dengan berselancar
ke dunia maya. Terusik rasa keingin tahuan dari kebenaran cerita teman saya
itu. Saya login ke akun facebook. Draft pemberitahuan hampir membuat saya meledak, membela mantan
kekasih rekan kerja saya itu lalu turut meneriakinya berlebihan, sebab tak
kurang dari 70 pemberitahuan datang hanya dari status-statusnya saja. Semua
tulisan statusnya berupa kalimat-kalimat puitis nan mendayu-dayu. Bahwa panah
cinta telah memenggal jantungnya. Jantungnya dipanggang nestapa. Ah..
Satu
jam kemudian, sambil menyelesaikan pembukuan keuangan akhir tahun. Sesekali
saya menoleh ke seberang meja, di mana rekan kerja saya itu masih terlihat
galau. Menutup mulutnya menahan isak tangis dengan satu tangan sedang satu
tangan yang lainnya tetap mengetik mengerjakan tugasnya sebagai accounting.
Sesekali
pula saya menyelinap dari pekerjaan dan pergi lagi ke dunia maya. Satu tulisan
galaunya berbunyi, “Buanglah mantan pada tempatnya”. Seperti terkena batunya
telah meneriakinya berlebihan, kata mantan
itu seolah mencolok mata saya. Masuk menembus menyeruak ke dalam dinding
ingatan dan mencongkel satu ingatan mengenai satu mantan kekasih saya. Semua
mantan kekasih tiba-tiba seperti dibentangkan ibaratnya ia adalah pekerjaan
yang menumpuk dan harus segera saya selesaikan.
Satu
ingatan adalah pada babak awal perkenalan kami. Di sebuah gedung yang telah
disewa oleh pihak penyelenggara membuat acara job fair. Kami sama-sama datang
dari luar kota dan melamar untuk posisi di yang sama di perusahaan yang sama
pula. Kami sedang duduk mengantri untuk wawancara. Obrolan yang singkat, saya
akui mengena dalam diri saya karena dia satu-satunya orang yang mengajak saya
berbicara lebih lama dari yang lain sekedar menanyakan informasi-informasi.
Obrolan berlanjut dua minggu kemudian ketika kami kembali dipanggil untuk
menanda tangani surat kontrak kerja.
Persuaan
lebih lanjut. Lenih intens. Tak ada kuasa untuk menolak bahwa telah terjalin
perasaan intim yang sulit kami elak. Apalagi kami dalam keadaan masing-masing
single. Setahun pertama hubungan kami lancar. Tahun kedua, usia kami memasuki
dua puluh lima tahun, dan semakin mantap perasaan kami untuk membawa hubungan
ke jenjang yang lebih serius. Sebuah pernikahan.
Kesepakatan
awal adalah bahwa saya akan tetap mengijinkannya bekerja. Dan karena ada
peraturan untuk semua karyawan yang dilarang menjalin hubungan (kami berpacaran
secara backstreet), maka saya yang
akan mengalah keluar dari pekerjaan setelah kami menikah nanti untuk kemudian
membangun usaha kecil-kecilan di bidang advertising.
Kebetulan saya ada sedikit pengalaman di sana, dulu pas masih kuliah saya
bekerja paruh waktu di perusahaan percetakan milik paman saya di Semarang.
Restu
dari orang tuanya telah kami kantongi, saat libur lebaran dia pulang ke Padang
dan saya ikut menemaninya. Untuk sesaat, saya seperti bocah lima tahun yang
berharap-harap cemas akan diajak bermain menaiki komidi putar pribadi milik
keluarganya. Kecemasan itu pecah saat melihat Ayahnya mengangguk mengiyakan
saya turut di dalam kebahagiaan keluarganya.
Bukan
main rasanya seolah saya tengah menggenggam dunia di tangan saya. Langit biru
cerah menyelimuti tubuh saya. Tapi hanya sesaat, sebelum kurang lebih dua bulan
kemudian, saat lebaran haji gentian dirinya yang saya ajak pulang ke Semarang.
Bermaksud mengenalkannya dan meminta restu dari orang tua saya. Tapi apa daya
ketika justru pil pahit lah yang musti kami telan?
Darah
ningrat begitu diagungkan oleh kedua orang tua saya. Sehingga bibit, bebet,
bobot seorang calon mantu bagi mereka tidak boleh ada satu pun yang kurang.
Penyakit turunan diabetesnya tak mendapat toleransi. Sehingga keberadaannya di
sisi saya hanya diamini sebagai teman biasa saja. Bukan untuk hal istimewa
berupa bahtera rumah tangga.
Saya
sempat memberontak. Membawa serta kemarahan dalam dada saya dan kembali ke
Jakarta usai hanya sehari di Semarang. Dalam perjalanan tak henti saya
meyakinkannya untuk meneruskan apa yang telah kami rencakan. Tak apa saya tak
mendapat restu dari orang tua. Toh yang membutuhkan wali nikah adalah pihak
mempelai wanita, sementara kami telah mengantonginya.
Namun
rupanya perkataan orang tua saya telah betul-betul menghancurkannya. Bahwa
pernihkahan itu hanya akan membawa kepedihan bagi kami jika kami meneruskannya.
Anak kami akan mengidap sakit yang sama dideritanya. Diabet itu sakit turunan.
Sama sepertinya mendapat penyakit itu. Ah..
Dua
hari kemudian dia menghilang. Dia tak ada di Padang atau pun di tempat-tempat
kami biasa mendatanginya saat hanya berlibur berdua. Saya seperti orang gila.
Saya kedanan mencarinya. Bahkan nyaris benar-benar gila. Sampai kemudian, suatu
hari, tepat sebualn dua tahun kemudian, satu kabar duka dikirimkan ke alamat
surat elektronik saya oleh salah seorang rekannya di Padang. Isi surat itu
mengabarkannya yang telah berpulang ke haribaan-Nya.
Kepedihan
dan kegilaan saya pada saat itu adalah dengan menuliskan kata-kata romantis
seperti sebuah surat cinta yang tak terbalas. Di mana ada tempat dan waktu, di
sana saya akan menulisnya. Setahun, dua tahun, saya masih menulisnya. Sampai
hilang kebiasaan itu dan saya mulai berlapang dada mengenangnya sebagai sang
mantan. Lantas membiarkan satu kebiasaan yang lain ia tularkan menyaru dalam
diri saya.
Ah,
kepergiannya yang dua kali dan tak terduga sama sekali. Sealur dengan keberadaannya yang tak terduga di
dalam benak saya dan ia meraja di sana. Memaksa saya untuk terus mengenangnya.
Sadar atau tidak sadar. Dan dua hal perkara sadar itu, ya dan tidak, muncul
bersamaan setelah mendengar (secara tidak sengaja) isak tangis merana dari
seorang rekan kerja. Ia yang menangisi kisah asmaranya yang telah patah.
Kemudian patahan-patahannya membentuk satu kata tegas yakni mantan, dengan
untaian kalimat-kalimat luka yang dibanjiri air mata.
Sadar
atau tidak sadar itu pula telah memicing rasa malu di hadapan mata saya. Bahwa
saya telah meneriakinya berlebihan, walau hanya dalam hati, tetap saya telah
meneriakinya. Padahal tiga tahun setengah yang lalu, dan hampir dua tahun, saya
pun menangis dan gila sepertinya hari ini. Berlebihan seperti dirinya hari ini,
sebab saya pernah dan terus mengenang dan menangisinya.
***



0 komentar:
Posting Komentar