Kamis, 25 Juli 2013

Saya (tidak) Sedang Mengenangnya





Secara tak sengaja, saya mendengar salah satu rekan kerja saya, perempuan dengan tipikal yang heboh, menceritakan kisah asmaranya yang baru saja kandas, setelah mereka menjalin hubungan selama dua tahun. Ia berkeluh kepada dua orang sahabatnya saat jam makan siang di kantin, dan saya mendengar hampir semua ceritanya sebab tempat duduk kami bersebelahan.
Akibat kandasnya hubungan mereka, perempuan dengan tubuh tinggi semampai itu menuturkan, hanya disebabkan karena tulisan status-statusnya di situs jejaring sosial facebook, yang dinilai kekasinya terlalu berlebihan. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa kalimat-kalimat romantis yang ia tulis itu bukan lain adalah ujud kasihnya yang tak terbatas dan mendalam. Sementara ia adalah tipikal perempuan yang romantis, akunya.
Ah, ya. Menggaris bawahi tipikal romantis, saya sedikit setuju dengannya, saya kerap kali, hampir saban hari malah, mendapati status-statusnya yang demikian. Ia menulis kalimat-kalimat romantis yang ada kalanya mengusik rasa iri di dalam diri saya pribadi, bahwa seandainya kekasih saya pun memiliki kepandaian mengukir kata-kata indah sepertinya. Entah keindahan dunia yang mana yang bisa kami elak?
Namun demikian, pada saat yang lain, saya pun berpikir, bahwa jika kalimat-kalimat romantis itu diteruskan dan menumpuk setiap hari. Dituliskan seolah hanya itu yang ada, bukankah ia juga akan mengundang rasa bosan pada akhirnya? Bahkan jika ukiran indah itu dituliskan dalam sebuah biduk rumah tangga sekalipun?
Mari berpikir sejenak dan tidak berpikir cupat. Bertindak jujur minimal untuk diri sendiri. Sebuah hubungan tentu akan banyak mengalami lonjakan. Karena tak ada bahtera yang tidak dihantam badai. Sementara sebuah tindakan interaksi, jika ia hanya diisi dengan laku monoton setiap hari, apakah itu akan menghasilkan sesuatu selain dari rasa jenuh? Bosan?
Ibarat tubuh, ia juga akan menolak makanan untuk sesaat isi lambung telah penuh. Lalu untuk mengisinya lagi, adalah ketika isi lambung telah mengalami masa cerna dengan sempurna. Bukankah seperti itu jika mengikuti aturan yang sebenarnya? Bukan hanya mengikuti hawa nafsu karena ia tak akan pernah ada habisnya.
Saya kembali ke kantor usai menghabiskan makan siang saya berupa nasi pecel dan es teh tanpa gula. Saya tidak menderita sakit gula atau sedang menjalani diet khusus, hanya karena memesan minuman es tanpa gula. Minuman itu saya pesan hanya karena ia telah menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang ditularkan oleh salah seorang mantan kekasih yang menderita diabet hasil turunan dari orang tuanya.
Saat itu, jam makan siang belum selesai dan saya menghabiskannya dengan berselancar ke dunia maya. Terusik rasa keingin tahuan dari kebenaran cerita teman saya itu. Saya login ke akun facebook. Draft pemberitahuan hampir membuat saya meledak, membela mantan kekasih rekan kerja saya itu lalu turut meneriakinya berlebihan, sebab tak kurang dari 70 pemberitahuan datang hanya dari status-statusnya saja. Semua tulisan statusnya berupa kalimat-kalimat puitis nan mendayu-dayu. Bahwa panah cinta telah memenggal jantungnya. Jantungnya dipanggang nestapa. Ah..
Satu jam kemudian, sambil menyelesaikan pembukuan keuangan akhir tahun. Sesekali saya menoleh ke seberang meja, di mana rekan kerja saya itu masih terlihat galau. Menutup mulutnya menahan isak tangis dengan satu tangan sedang satu tangan yang lainnya tetap mengetik mengerjakan tugasnya sebagai accounting.


Sesekali pula saya menyelinap dari pekerjaan dan pergi lagi ke dunia maya. Satu tulisan galaunya berbunyi, “Buanglah mantan pada tempatnya”. Seperti terkena batunya telah meneriakinya berlebihan, kata mantan itu seolah mencolok mata saya. Masuk menembus menyeruak ke dalam dinding ingatan dan mencongkel satu ingatan mengenai satu mantan kekasih saya. Semua mantan kekasih tiba-tiba seperti dibentangkan ibaratnya ia adalah pekerjaan yang menumpuk dan harus segera saya selesaikan.
Satu ingatan adalah pada babak awal perkenalan kami. Di sebuah gedung yang telah disewa oleh pihak penyelenggara membuat acara job fair. Kami sama-sama datang dari luar kota dan melamar untuk posisi di yang sama di perusahaan yang sama pula. Kami sedang duduk mengantri untuk wawancara. Obrolan yang singkat, saya akui mengena dalam diri saya karena dia satu-satunya orang yang mengajak saya berbicara lebih lama dari yang lain sekedar menanyakan informasi-informasi. Obrolan berlanjut dua minggu kemudian ketika kami kembali dipanggil untuk menanda tangani surat kontrak kerja.
Persuaan lebih lanjut. Lenih intens. Tak ada kuasa untuk menolak bahwa telah terjalin perasaan intim yang sulit kami elak. Apalagi kami dalam keadaan masing-masing single. Setahun pertama hubungan kami lancar. Tahun kedua, usia kami memasuki dua puluh lima tahun, dan semakin mantap perasaan kami untuk membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius. Sebuah pernikahan.
Kesepakatan awal adalah bahwa saya akan tetap mengijinkannya bekerja. Dan karena ada peraturan untuk semua karyawan yang dilarang menjalin hubungan (kami berpacaran secara backstreet), maka saya yang akan mengalah keluar dari pekerjaan setelah kami menikah nanti untuk kemudian membangun usaha kecil-kecilan di bidang advertising. Kebetulan saya ada sedikit pengalaman di sana, dulu pas masih kuliah saya bekerja paruh waktu di perusahaan percetakan milik paman saya di Semarang.
Restu dari orang tuanya telah kami kantongi, saat libur lebaran dia pulang ke Padang dan saya ikut menemaninya. Untuk sesaat, saya seperti bocah lima tahun yang berharap-harap cemas akan diajak bermain menaiki komidi putar pribadi milik keluarganya. Kecemasan itu pecah saat melihat Ayahnya mengangguk mengiyakan saya turut di dalam kebahagiaan keluarganya.
 Bukan main rasanya seolah saya tengah menggenggam dunia di tangan saya. Langit biru cerah menyelimuti tubuh saya. Tapi hanya sesaat, sebelum kurang lebih dua bulan kemudian, saat lebaran haji gentian dirinya yang saya ajak pulang ke Semarang. Bermaksud mengenalkannya dan meminta restu dari orang tua saya. Tapi apa daya ketika justru pil pahit lah yang musti kami telan?
Darah ningrat begitu diagungkan oleh kedua orang tua saya. Sehingga bibit, bebet, bobot seorang calon mantu bagi mereka tidak boleh ada satu pun yang kurang. Penyakit turunan diabetesnya tak mendapat toleransi. Sehingga keberadaannya di sisi saya hanya diamini sebagai teman biasa saja. Bukan untuk hal istimewa berupa bahtera rumah tangga.
Saya sempat memberontak. Membawa serta kemarahan dalam dada saya dan kembali ke Jakarta usai hanya sehari di Semarang. Dalam perjalanan tak henti saya meyakinkannya untuk meneruskan apa yang telah kami rencakan. Tak apa saya tak mendapat restu dari orang tua. Toh yang membutuhkan wali nikah adalah pihak mempelai wanita, sementara kami telah mengantonginya.
Namun rupanya perkataan orang tua saya telah betul-betul menghancurkannya. Bahwa pernihkahan itu hanya akan membawa kepedihan bagi kami jika kami meneruskannya. Anak kami akan mengidap sakit yang sama dideritanya. Diabet itu sakit turunan. Sama sepertinya mendapat penyakit itu. Ah..
Dua hari kemudian dia menghilang. Dia tak ada di Padang atau pun di tempat-tempat kami biasa mendatanginya saat hanya berlibur berdua. Saya seperti orang gila. Saya kedanan mencarinya. Bahkan nyaris benar-benar gila. Sampai kemudian, suatu hari, tepat sebualn dua tahun kemudian, satu kabar duka dikirimkan ke alamat surat elektronik saya oleh salah seorang rekannya di Padang. Isi surat itu mengabarkannya yang telah berpulang ke haribaan-Nya.
Kepedihan dan kegilaan saya pada saat itu adalah dengan menuliskan kata-kata romantis seperti sebuah surat cinta yang tak terbalas. Di mana ada tempat dan waktu, di sana saya akan menulisnya. Setahun, dua tahun, saya masih menulisnya. Sampai hilang kebiasaan itu dan saya mulai berlapang dada mengenangnya sebagai sang mantan. Lantas membiarkan satu kebiasaan yang lain ia tularkan menyaru dalam diri saya.
Ah, kepergiannya yang dua kali dan tak terduga sama sekali. Sealur  dengan keberadaannya yang tak terduga di dalam benak saya dan ia meraja di sana. Memaksa saya untuk terus mengenangnya. Sadar atau tidak sadar. Dan dua hal perkara sadar itu, ya dan tidak, muncul bersamaan setelah mendengar (secara tidak sengaja) isak tangis merana dari seorang rekan kerja. Ia yang menangisi kisah asmaranya yang telah patah. Kemudian patahan-patahannya membentuk satu kata tegas yakni mantan, dengan untaian kalimat-kalimat luka yang dibanjiri air mata.
Sadar atau tidak sadar itu pula telah memicing rasa malu di hadapan mata saya. Bahwa saya telah meneriakinya berlebihan, walau hanya dalam hati, tetap saya telah meneriakinya. Padahal tiga tahun setengah yang lalu, dan hampir dua tahun, saya pun menangis dan gila sepertinya hari ini. Berlebihan seperti dirinya hari ini, sebab saya pernah dan terus mengenang dan menangisinya.

***

0 komentar:

Posting Komentar