Kamis, 25 Juli 2013

Suatu Sore di Peron





Sedetik saya tertegun, tubuh saya serasa kaku dan tak bisa digerakan. Ini bukan sekali-sekalinya atau baru kali pertama terjadi saat saya melihat Susanti, dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai dan diterpa angin. Bahkan setelah dirinya bukan lagi menjadi milik saya seorang, dan saya melihat bagaimana perutnya yang membuncit. Oh, saya tak pernah mengingat, bahwa hanya dari mengingat namanya saja, ia masih membuat diri saya parau dan kepayang.
Sore itu sekitar pukul tiga, langit Tegal cerah dengan sedikit awan-awan yang menggantung, saya datang ke stasiun Tegal untuk menjemput  Vera, tunangan saya dalam perjalanan pulang dari Semarang, dan baru saja ia mengikuti ujian semester di salah satu universitas di kota lumpia itu.
Saya sedang duduk di peron, di kursi panjang dan menunggunya. Menghitung waktu, jika tepat, maka kereta yang membawanya pulang hanya kurang dari tiga puluh menit lagi akan sampai. Kemudian pandangan saya, entah apa yang membuat saya menoleh dan menangkap Susanti, berdiri dengan jarak dari saya tak lebih dari sepuluh sampai lima belas meter saja. Rambut ikal panjangnya yang tergerai berterbangan diterpa angin. Saya membatu, sementara ia membalas menatap saya dan tersenyum, berjalan pelan ia mendekati saya. Lalu mengulurkan tangannya menyalami saya.
“Sendirian?” tanyanya pelan sembari duduk di samping saya.
Mengangguk-angguk bodoh, tanpa sadar saya mengangkat sebelah kaki saya dan menyilangkannya. Satu dari sekian cirri khas yang adakalanya saya akan menyadari, bahwa kebiasaan itu muncul hanya pada saat-saat tertentu. Misalkan ketika saya sedang panik, saya akan menggigiti kuku. Atau dalam kondisi seperti saat ini, duduk sembari menyilangkan kaki, ah, saya telah menyebutkan alasannya.
“Menunggu siapa?” tanyanya lagi.
“Vera,” saya menjawab ringkas karena kau tahu alasannya apa?
Dan giliran Susanti yang mengangguk. Oh, tentu dia tahu soal Vera. Saya mengenalkannya beberapa waktu yang lalu ketika kami bertemu di sebuah resepsi pernikahan teman.
“Kau sendiri?”
“Mas Han pergi ke Surabaya untuk satu urusan. Dan sore ini ia pulang,” ia menjawab menjelaskan.
Sejenak kami saling diam. Bukan telah menutup percakapan yang baru saja dimulai. Akan tetapi karena handphone saya mendadak berbunyi, dari Vera, ia menelepon hanya untuk memastikan bahwa saya sudah tiba di stasiun untuk menjemputnya.
“Vera,” entah apakah penting ketika saya mengatakan hal tersebut kepada Susanti? Menjelaskan siapa yang menelepon hanya karena saya telah mengira, bahwa obrolan kami terputus dan membuatnya merasa tidak nyaman?
Kadang, kau tentu juga akan berbuat hal yang serupa, bukan? Kau tengah mengobrol dengan seseorang lalu datang seorang yang lain sebagai “pengganggu”, dan kau berusaha menjelaskan letak penting tidaknya si pengganggu itu penyebab obrolan kalian musti rehat sejenak.
“Ya, Vera,” Susanti mengangguk lagi. “Setahuku dia mengajar, bukan?”
“Ya, dia mengajar Sekolah Dasar. Dan dia juga masih sekolah.”
Senyum samar di bibirnya, dulu membuat teman-teman satu kantor senantiasa mengangkat topi kepada saya. Mengatakan bahwa kata-kata istilah pungguk merindukan bulan betul-betul maujud dalam lembaran kisah yang kami berdua arungi. Ya, rekan-rekan kerja kami, khusus yang laki-laki, siapa yang akan bisa berkedip dan mengalihka pandangannya ketika ia tersenyum?
Mereka menyebut kekasih saya, perempuan berwajah dingin dan menggoda. Tipikal angkuh dan tidak sentimentil. Sedikit banyak dari mereka berujar, bahwa Susanti adalah paket yang didambakan tiap lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya, maka saya beruntung telah mendapatkannya.
Tetapi itu dulu, lima sampai enam tahun yang lalu sebelum keberuntungan itu patah. Kami berpisah dengan sekian alasan yang tentu kalian memahami. Tanpa banyak kata, saya kalian tentu memahami jika sebuah hubungan harus diakhiri, kan?
“Jangan lupa kau bagi undanga jika kalian menikah nanti,” pintanya dengan suara, nada suara yang saya mendengarnya tidak pernah berubah. Khas wanita yang akan membuatmu selalu teringat kepada Ibu.
“Tidak akan.”
Kali ini senyumnya melebar. She’s really know my sense of humor.
“Ya, kau tidak akan lupa menulis namaku dan suami dalam daftar tamu. Itu maksudmu, kan?”
Saya menggeleng sementara dia mengangkat bahu.
“Baiklah kalau begitu, saya tidak akan memaksa,” lanjutnya sembari tersenyum.
“Ya, begitu lebih bagus bukan? Tidak memaksa. Karena aku tidak akan berbicara mengenai pernikahan.”
“Kenapa?”
“Kami baru saja bertunangan sekitar tiga atau empat Minggu yang lalu. Dan aku tak akan membicarakan mengenai pernikahan di tempat umum.”
Pandangan matanya beredar anggun. “Bisa dimengerti,” desisnya sambil mengangguk. Dan angin kembali menerbangkan anak-anak rambutnya. Aromanya seperti candu yang ditebar di pelataran taman musim semi. Aroma kembang ilalang yang ringan dan selalu mengingatkan hati dengan berjuta kerinduan.
Sementara saya, saat itu adalah kembali merupa pungguk merindu bulan. Cerita yang masih berlanjut namun kali ini tanpa lakon. Saya tidak lagi menjelma sebagai  Sang Arjuna memenangi hati Dewi Sembodro. Namun Jaka Tarub yang dipaksa rela melepas Dewi Nawang Wulan kembali ke kahyangan.
Oh, terdengar kalau saya masih mendambanya? Jika mengatakan sesuatu mengenai kejujuran, maka kalimat “mendambanya” buat saya akan lebih spesifik dan intim. Saya telah berkata mengenai tipikal yang ada pada dirinya adalah apa yang saya butuhkan. Dirinya yang saya mau.
Namun dari sekian fakta yang telah berlaku. Tentu itu membuatmu cukup paham bahwa perempuan itu, yang pernah datang dan menyaru dalam separuh jiwa dan hidup saya, nyata sekali tidaklah tercipta dari satu tulang rusuk saya. Tuhan tidak menggariskannya dalam keseluruhan hidup kami. Kecuali hanya untuk diambil pelajarannya saja.
Angin menerpa wajah saya dan menarik dari kebisuan. Susanti sedang berbicara di telepon. Wajahnya yang merona memalu, tentu ia tengah bermasyuk dengan separuh hidupnya di luar sana yang dalam perjalanan pulang. Sementara peron kian dipenuhi orang-orang yang datang dan hendak pergi, atau orang-orang yang datang untuk menjemput seorang yang lainnya.
Beberapa kali para pedagang asongan menyorongkan dagangannya menawarkan kepada kami. Kadang, ketika para pedagang asongan yang mendatangi kami adalah seseorang dengan tindak-tanduk beringas, mereka tidak segan memaksa kami untuk membeli dagangannya. Kau sendiri tahu bagaimana tuntutan ekonomi dan kondisi setiap tempat-tempat pemberangkatan angkutan umum? Entah itu stasiun atau terminal, itu adalah lahan bagi mereka mencari-cari cara untuk menyambung hidup tanpa ada pengindahan terhadap kaidah benar salah. Sehingga hasilnya adalah jauh pula kaitannya dengan konsep kebenaran, manakala kami yang mendapat tekanan seperti itu menggunakan cara-cara kami untuk membela diri. Kau setuju, tentu.
Tetapi akan menjadi lain urusannya jika hari itu menjadi hari keberuntungan bagi para tukang jualan asongan bertindak-tanduk begajul itu, jika mereka berkeberuntungan besar bertemu seseorang yang berwelas asih, ya sedikit mencontek kisah Sidharta yang rela dagingnya dimakan pemangsa, maka hanya dengan berdiri saja di samping si target (percontohan si Sidharta tadi), si target akan membeli beberapa dagangannya meski hanya sebungkus kertas tissue murah yang ketika ia dibayar dengan menggunakan uang besar dan kebetulan tidak ada atau belum ada kembaliannya, lantas beberapa butir permen lah yang dijadikan sebagai uang kembaliannya. Sungguh keberuntungan yang dobel.
“Lalu apa ruginya buatku?” kilah Susanti yang tidak setuju dengan pandangan saya ketika ia membayar untuk tisu namun permen lah yang kemudian menjadi uang kembaliannya, ya dalam hal ini Susanti lah yang menjadi percontohan Sidharta tadi. “Aku mendapatkan tisu dan permen. Dua barang ini harganya sama dengan ketika aku membelinya di warung-warung yang mangkal. Kecuali kalau aku membelinya di minimarket. Aku rasa wajar saja kan kalau ada sedikit perbedaan harga di tempat jualan yang menetap dan yang keliling?”
“Ya, khas sekali dirimu.”
“Jangan mulai.”
“Mulai apa? Memang begitu, kan?”
Pandangan Susanti terpaku. Sedetik, saya berpikir kalau dia akan tersulut emosi. Tetapi saya keliru, saya telah menyinggung sedikit tentang masa lalu kami, yang siapa saja termasuk kau, akan keberatan dan tersinggung jika sesuatu yang telah dibuang mati diungkit-ungkit kembali. Namun ia malah lepas tertawa. Seringan kembang ilalang dilandaikan nyiur sang angin.
“Mulai untuk membicarakan Cinderella Complex,” ia melanjutkan di sela mengulurkan permen dengan aneka ragam rasa dan merek di atas tangannya kepada saya. Kemudian ia berhenti tertawa dan ada sedikit keseriusan saya melihat di matanya.
Cinderella Complex sudah bertemu dengan pejantan tangguh setelah sang pejantan berhasil menebas leher sang naga penjaganya.”
Pandangan kami masih beradu. Sedetik. Sebelum kemudian Susanti mengalihkan pandangannya dan saya melihatnya menghela napas. Ia tersenyum menggeleng ketika seorang perempuan paruh baya dengan tubuh pendek ceking menawarkan dagangannya berupa gorengan yang tanpaknya sudah lembek. Kemudian perempuan paruh baya ceking itu berganti menawarkannya kepada saya. Sorotan mata dan senyum hapa-harap cemasnya memaksa ingat saya bahwa ada sekiranya lima ribu rupiah di kantung celana, uang sisa membeli bensin tadi.
Ah, ya tepat lima ribu rupiah. Saya berikan saja uang itu dan perempuan itu segera membungkus gorengan dengan kantung kertas. Sekilas saya melirik kepada Susanti, sebelah tanganya menyisir rambutnya ke belakang yang jatuh menutupi muka akibat kembali diterpa angin. Sedangkan tangannya yang lain ia mengelus perutnya yang membuncit itu.
Perempuan paruh baya itu membungkuk sangat rendah sebelum ia pergi. Lalu kami kembali kepada sudut tak nyaman yang disebabkan oleh kecerobohan saya. Saya berusaha menarikany kembali. Mengajaknya berbicara apa saja, namun ia lebih senang berbicara mengomentari gorengan yang saya beli. Ia menegaskan bahwa rasa kasihan saya terhadap perempuan paruh baya itu sama persis dengan yang dilakukannya beberapa menit yang lalu saat ia membeli kertas tisu.
Namun begitu saya tidak sepenuhnya yakin bahwa tertariknya kembali ia berbicara kepada saya, bukan karena ia senang mengungkit-ungkit. Kesannya sangat jelas bahwa ia enggan, muak, dan hanya menghargai saya saja ia kembali mau berbicara.
Saya sendiri telah menakar, bahwa kecerobohan saya mungkin tak terampuni. Seperti membuta peraturan yang saya buat sendiri, sementara hukumannya adalah orang lain yang menentukan. Sehingga rasanya harus begitu malu kepadanya yang jumawa dengan kebesaran hatinya, bahwa ia masih bersedia menanggapi saya. Menghargai saya setelah apa yang telah saya lakukan, terlepas jika itu berada di luar kendali.
Ah, menyinggung mengenai apa itu Cinderella Complex, sekalipun jika mau mengusut, justru Susanti sendiri lah yang telah menyebut-nyebut istilah itu terlebih dahulu. Membangunkan ingatan pahit terkait nama sebutan untuknya dulu. Saat dulu hubungan kami meruncing. Dengan segala ketidak berdayaan kami yang tak mampu menguasai ego diri. Lantas turut menambah-nambahi menjadi sangat kisruh adalah gunjingan-gunjingan yang menyudutkannya. Menyebutnya Cinderella Complex yang tak tahu diri. Bahwa penampilan mandirinya hanya sebuah kamuflase. Wajah dinginnya hanya serupa topeng beku.
Seperti dibangunkan dari mimpi, saat terdengar desis kereta api dari kejauhan. Lalu orang-orang mulai berdiri dan merapat ke sepanjang rel di dalam peron itu. Saya sendiri lebih mengikuti Susanti yang justru berdiri dan menyingkir ke belakang, agak menjauh dari kerapatan.
Desis kereta api terdengar semakin jelas. Lantai di bawah kaki sedikit bergetar. Wajah Susanti, ia merona merah. Tidak lagi datar dengan kesan penghindaran yang sudah untuk dielak.
“Suamiku dan tunanganmu itu satu kereta,” katanya keras-keras kepada saya. Matanya berbinar dengan wajah antara menoleh dan segera dialihkan kepada kereta yang berjalan memasuki peron. Mula-mula pelan, berdesing, lantas benar-benar berhenti dengan jarak dari muka kami sekitar lima sampai enam meter. Pintu-pintu gerbong penumpang mulai dibuka. Dan seperti laron yang keluar dari sarangnya, orang-orang mulai berdesakan keluar.
“Aku akan menunggungu di sini. Di dekat pintu masuk,” katanya lagi dengan suara gugup. Khas seorang pencinta kepada kekasihnya. “Bagaimana denganmu? Kau! Apa kau akan menjemputnya ke sana? Maju ke depan sana? Atau berdiri saja di sini denganku?”
Tidak memperdulikan apa yang keluar dari mulutnya. Oh, apakah gerangan yang menelusup di dalam rongga dada saya? Apakah itu? Iri kah? Cemburu? Entah apa yang membuat saya menarik-narik ingatan sekaligus bertanya-tanya, pernahkan ia dulu sebegitu gusarnya menanti setiap kedatangan saya di rumahnya? Pernahkah ia menggila seperti itu?
Mendadak ada penyesalan yang begitu mendalam. Wajah dinginnya, tentu bukan kamuflase bukan? Itu bukan topeng. Bagaimana pun ciri seseorang, untuk seseorang yang ia cintai, tentu ia bisa melakukan banyak hal gila. Banyak hal yang tak terduga membuat kita semakin kepayang kepadanya. Kau sependapat, kan?
Dada saya mendadak sesak. Setelah ada hantaman yang baru saya dapat setelah lebih dari lia tahun berlalu, paska saya melepasnya demi membela ego. Ah, hantaman itu sangat kuat menohok kala seorang laki-laki dengan tinggi sepantaran dengan saya, wajahnya bersih dengan mata teduh yang berbinar, berjalan keluar dari kerumunan orang-orang yang menyesak kepada kereta. Tangannya terentang menemui Susanti dan merangkulnya.
Beberapa saat saya terpaku. Cinta dan romantismenya seperti layar terkembang ditaburi jelaga rindu. Degup jantung saya mengabaikan perasaan ngilu, sebab ia tiada tempat jika diletakkan di mana pun dalam rentang hubungan saya dengannya saat ini.
Akhirnya saya berpaling dari romantisme sang mantan, kala sebuah tangan, halus menyentuh pundak saya dari belakang. Kemudian saya pun mendapat pelukan yang sama ketika menoleh. Vera memeluk saya hangat. Meski pelukan hangatnya itu, ah, tak sebanding dari pada apa yang saya rindukan dari pelukan Susanti dulu.
Vera sudah melepas pelukannya, Susanti dan suaminya mendekat. Suaminya menyalami saya dan Vera, begitu pula Susanti menyalami Vera. Hanya sebentar berbasa-basi, basa-basi yang membantu saya untuk mengaburkan rasa ngilu, yang mana Susanti coba untuk menangkapnya dari caranya ia menatap saya tajam. Tetapi saya mengelak. Mengelak memberinya apa yang ia cari sampai akhirnya kami semua berbalik dan berjalan pulang, sebelum terkahir sekali, yang saya tangkap darinya adalah sebuah lambaian tangan dan rambutnya kemnbali diterpa angin. Melunglaikan sukma saya yang senantiasa parau. Ah..
***
Tegal, 16-17 Januari 2013

Ewin Suherman



0 komentar:

Posting Komentar