Sabtu, 27 Juli 2013

MENYERUPAI SENJA (1)



Yang saya duga, Tedy tak tidur semalaman. Tampak dari lingkaran hitam di sekitar matanya. Semalam, saat hujan risik mengguyur Bumiayu, sebelum saya larut dengan pekerjaan saya menyunting naskah-naskah yang masuk ke surel pribadi saya, Tedy mencurahkan semua kepenatan dalam dadanya kepada kami, saya dan Mbak Arum.
Telah terbiasa baginya menjadikan kami sebagai tempat curhat. Mengenai apa saja. Bahkan ketika ia mendapatkan kencan pertamanya yang konyol, tak segan dan malu ia menceritakannya kepada kami semua. Padahal untuk saya, kami baru mengenal secara intens tidak lebih dari satu bulan, saya pindah kemari, Bumiayu-Brebes dari Bekasi untuk memenuhi undangan tawaran pekerjaan di tempat yang baru. Namun karena pembawaannya yang hangat itu, membuat waktu tak lagi menjadi batas ukur menentukan boleh tidaknya seseorang masuk lebih jauh ke dalam area pribadinya.
“Kita kan saudara,” begitu tepisnya, satu hari saya merasa Tedy telah keluar batas membuka dirinya terhadap saya yang baru ia kenal.

Dan memang begitu, seperti kepada Mbak Arum, kakak perempuan saya yang menikah dengan Mas Rivan, kakak tertua Tedy, dia sama sekali tak membedakan sikap. Kata saudara yang terucap dari bibirnya telah meniadakan jarak di antara kami semua. Itu pula yang membuat saya kian kerasan tinggal di rumah tua dengan arsitektur Belanda ini. Serumah dengan orang hangat lain selain Tedy dan Mas Rivan sendiri adalah Emak dan anak mereka berusia sepuluh tahun, Ara. Emak adalah satu-satunya orang tua mereka masih hidup. Perempuan dengan welas asih yang mampu memenuhi kerinduan saya dengan pelukan almarhumah bunda.
Kembali menyoal Tedy, lingkaran hitam di sekitar mata akibat tidak tidur semalaman adalah karena resah tengah menggalau di dalam dadanya. Menyumbar hingga pengap. Ia berkisah, bahwa kepenatan itu bukan dihasilkan dari ie telah menemukan kenyataan apa di luar sepengetahuannya mengenai Dewi, kekasihnya yang tinggal di sebuah kompleks perumahan elit di daerah Tegal Selatan. Melainkan bahwa dirinya tengah diadu dengan kejenuhan hubungan mereka yang ia nilai terlampau datar akhir-akhir ini.
“Orang berjalan butuh istirahat sejenak, Ted,” begitu yang dikatakan Mbak Atum menanggapi. “kamu butuh break, maka kamu harus break.’
Siapa tidak membenarkan kalimat menanggapi dari Mbak Arum? Setidaknya saya membenarkannya. Namun jika kemudian ia semalaman tidak tidur, tak seorang dapat memastikan bahwa sekali ini ia menolaknya. Setiap orang membutuhkan ruang gerak lebih luas dari yang diperkirakan. Jadi bukan satu kemustahilan kalau sekali ini, dia pun demikian.
“Break?” membuka kata usai mencecap kopi buatan Emak, pagi (saat ini) di dapur ia turun untuk sarapan. Di dapur, saya, Emak, dan Mbak Arum tengah membuat sarapan pagi berupa nasi goreng sayur. Dan ia menyambung lagi pembicaraan semalam tanpa harus mencari tali temalinya.
“Ya, break,” tanggap Mbak Arum dnegan konsentrasi terjaga membuat telur mata sapi pesanan mas Rivan seperti biasa untuk makan paginya. “Apa itu sebuah keputusan?” lanjut Mbak Arum bertanya.
Mencecap kopinya lagi dan ia melumat bibirnya. “Masih menimbang,” katanya sambil melirik kepada saya, kebetulan saat itu sedang menoleh.
“Masih menimbang?”
“Ya, aku butuh lebih banyak waktu untuk memastikannya. Akan break atau tidak?” Tedy beranjak dari kursinya dan berpindah posisi, berdiri menyandar tembok membeku di sisi kiri saya berdiri menghadapi kompor bersebelahan dengan Emak.
Mata lelah itu, sepintas saya menangkapnya, sungguh kontras dengan wajah putih bercahayanya. Seperti mendung menggelantung mengancam menidurkan matahari. Lingkaran itu terlihat jumawa. Ah, sebegitu bersungguh-sungguh dirinya memikirkan nasib cintanya. Tidak kalau tak ada lingkaran hitam di daerah sekitar mata dan saya mendengar ia mengeluh  telah berkali-kali keluar masuk kamar kecil. Sedikitnya setiap tiga puluh menit sekali ia menghitung menggunakan penalarannya sendiri, hanya dalam semalam.
Kemudian membandingkan dengan diri saya sendiri? Jelas ini perbandingan telak, sebab saya paling pasrah untuk urusan hati. Bukan saya menyerah akibat pernah gagal membina hubungan serius. Dan saya telah meletakkan segalanya di garisan takdir-Nya, mengenai nasib cinta saya yang tengah saya jalani saat ini.
Tetapi Mbak Arum dan Tedy, berdua mereka tidak setuju, dan mengatakan kalau apa yang saya lakukan, hanya sebuah pengalihan kata. Saya trauma sebenarnya, sedang trauma dan kemudian bersembunyi di balik kata-kata sugesti yang saya buat sendiri.
Ah, itu, saking tidak percayanya membuat saya benar-benar mempertanyakannya. Kepada diri sendiri, sehingga karena pertanyaan itu pun, saya sama sekali tak menemui jawabannya. Membuat saya sering kali kebingungan sendiri. Mencari ketetapan yang berdiam diri dan menatap dinding tebing perbukitan di belakang rumah.
Kemudian dalam masa yang seringkali itu, tak jarang saya ditarik tangan-tangan masa lalu kembali membawanya ke sana. Menemui Jonas di Bekasi. Jonas, anak dari seorang pastur yang telah begitu menggiurkan diri saya setelah dua tahun mengenalnya dan kami menjalin kasih tanpa ada pertentangan apa pun dari kedua orang tuanya kendati kami tak satu keyakinan. Tapi Jonas kini telah berada di haribaan-Nya. Benang-benang asmara kami terputus dihempas gelombang nestapa, tercerai begitu saja akibat kecelakaan maut di daerah Condet, pada saat malam pergantian tahun baru dan kami berdua merayakannya berkeliling-keliling menaiki motor gedhe bersama dengan klub motor gedhenya.
Kecelakaan maut yang telah merenggutnya dari saya. Perasaan merana yang begitu hebat, mencoba saya bebat dengan bekeras diri, menerima setiap uluran tangan mengajak saya mengarungi samudera kerlap-kerlip. Tak hanya sekali atau dua kali kekerasan hati saya justru malah menenggelamkan diri saya. Mengubur saya hidup-hidup dan lantas dibangkitkan lagi. Tak jelas apakah saya hidup atau mati?
Disadarkan bahwa saya masih hidup adalah dengan kedatangan Kristiawan. Laki-laki dengan status menggantung akibat kasus perceraiannya yang terus saja berlarut-larut. Kristiawan adalah seorang putera tunggal dan pewaris dari seorang pemilik pabrik kabel di Tangerang. Dia yang memiliki pergaulan yang luas ditambah lagi dengan background keluarga, membuatnya dikenal masyarakar bak selebriti. Paling memuncak dari ketenarannya adalah mengenai kasus perceraiannya belum tuntas dan malah diselipi dengan desas desus miring mengenai penyebab gugatan cerai sang istri. Satu yang paling mencolok adalah tuduhan yang dinyatakan seorang saksi mengatakan bahwa ia seorang laki-laki yang berorientasi seksual menyimpang. Dugaan itu pun semakin kuat karena diamini oleh sang istri.
Tetapi dari kasus itulah perkenalan kami bermula. Media tempat saya bekerja tak habis membuat berita mengenainya. Dari sana juga saya sempat memiliki satu kesimpulan dengan membenarkan bahwa jodoh akan datang dari tempat-tempat yang tak terduga. Penyebabnya, adalah satu kali akhirnya ada pemberitaan yang bertolak dengan kebenaran versi dirinya. Sehingga ia tak segan melayangkan sebuah surat somasi, meminta media kami meralat pemberitaan yang menurutnya timpang itu.
Terhitung dua kali ia menyabangi kantor redaksi media kami. Dan selama dua kali itu pula, entah karena kebetulan, kami selalu bertemu. Bertemu lagi di kesempatan yang lain. Dalam masa kasus cerainya yang tidak juga berkesudahan, kami bertemu di sebuah restoran masakan Jepang di kawasan Kebayoran. Waktu itu jauh-jauh saya datang dari Bekasi untuk mmenuhi undangan pesta ulang tahun pernikahan salah satu kawan saya. Sedang dirinya, sekali waktu ia mengaku akan mengunjungi kedua anaknya yang dibawa dan tinggal di rumah istrinya di daerah dekat restoran masakan Jepang itu.
Seperti yang dikatakannya adalah jujur, ia datang ke restoran itu bersama dengan kedua orang anaknya berusia masing-masing delapan dan lima tahun. Merasa mengenali wajah saya, Kristiawan lah yang kali pertama menyapa saya. Pun akhirnya ia meminta diri untuk bergabung bersama dengan kami, yang mana kawan saya pun tak merasa keberatan jika ia turut bergabung di sana.
Obrolan kami berlanjut. Dari sushi dan tempayaki, sampai teori mengenai daya listrik yang dialirkan oleh kilat jika ia menemui benda penghantar yang sinkron. Awal yang manis berlanjut semakin manis.
Saya sama sekali tak meletakkan keistimewaan pada diri seorang laki-laki mengenai poligami, bukan pula saya merendahkannya. Hanya saya tak membicarakan mengenai apa pun hal yang saling mengait di sana. Walau kemudian hubungan kami berlanjut semakin intens, dan ia belum juga menemui titik temu dalam kasus perceraiannya, sungguh, antara kami tak pernah menyinggung hal itu. Poligami.
Memang saya pun tak memungkiri, jika kekerasan hati saya selama kurun waktu setahun, memaksa diri berdiri tegak dalam kubangan air mata menenggelamkan kaki-kaki saya, memberikan hasil setimpal dan kebahagiaan kembali saya raih. Asa membentang dan impi ibarat layar yang terkembang. Kebahagiaan itu adakalanya berkeluh akibat sidang perceraianya itu. Hal yang seperti itu tak bisa saya elak. Karena toh saya tak lagi meragukan diri saya telah begitu mengikat dengan sukma seorang Kristiawan Budhiarto. Dia pula telah meyakinkan saya, bahkan kepada seluruh keluarganya bahwa ia tak membutuhkan waktu lama menemukan pengganti wanita yang secara hukum masih berstatus istrinya itu.
Sekarang hampir dua tahun hubungan kami, dengan sidang kasus perceraian mereka belum memutuskan cerai. Pembagian harta gono-gini menjadi hal paling ruwet menambah waktu semakin panjang dan entah akan berakhir kapan?

Sungguh bukan tidak tahu diri jika saya pernah merasa lelah. Jangan ditanya pula telah seberapa dekat diri saya dengan keluarganya begitu pula sebaliknya? Umur terkadang menakuti saya. Kadang pula malah saya menantangnya. Saya tidak meminta kejelasan yang berlebih dalam masa-masa keruh seperti sekarang ini. Akan tetapi rasanya cukup adil jika saya sedikit mempertanyakan keseriusan dari kalimat-kalimat syurganya. Memintanya segera mempercepat urusan perceraiannya. Toh saya juga sudah memasang diri. Bertolak ke belakang hubungan kami berlatar apa dari sisi Kristiawan? Sehingga jika hal terburuk (bagi saya) yang saya terima nantinya, setidaknya saya telah memasang diri. Jika ternyata mereka tidak jadi bercerai? Mereka kembali rujuk? Siapa yang bisa tahu melebihi kuasa-Nya?

0 komentar:

Posting Komentar