Yang
saya duga, Tedy tak tidur semalaman. Tampak dari lingkaran hitam di sekitar
matanya. Semalam, saat hujan risik mengguyur Bumiayu, sebelum saya larut dengan
pekerjaan saya menyunting naskah-naskah yang masuk ke surel pribadi saya, Tedy
mencurahkan semua kepenatan dalam dadanya kepada kami, saya dan Mbak Arum.
Telah
terbiasa baginya menjadikan kami sebagai tempat curhat. Mengenai apa saja.
Bahkan ketika ia mendapatkan kencan pertamanya yang konyol, tak segan dan malu
ia menceritakannya kepada kami semua. Padahal untuk saya, kami baru mengenal
secara intens tidak lebih dari satu bulan, saya pindah kemari, Bumiayu-Brebes
dari Bekasi untuk memenuhi undangan tawaran pekerjaan di tempat yang baru.
Namun karena pembawaannya yang hangat itu, membuat waktu tak lagi menjadi batas
ukur menentukan boleh tidaknya seseorang masuk lebih jauh ke dalam area
pribadinya.
“Kita
kan saudara,” begitu tepisnya, satu hari saya merasa Tedy telah keluar batas
membuka dirinya terhadap saya yang baru ia kenal.
Dan
memang begitu, seperti kepada Mbak Arum, kakak perempuan saya yang menikah
dengan Mas Rivan, kakak tertua Tedy, dia sama sekali tak membedakan sikap. Kata
saudara yang terucap dari bibirnya telah meniadakan jarak di antara kami semua.
Itu pula yang membuat saya kian kerasan tinggal di rumah tua dengan arsitektur
Belanda ini. Serumah dengan orang hangat lain selain Tedy dan Mas Rivan sendiri
adalah Emak dan anak mereka berusia sepuluh tahun, Ara. Emak adalah
satu-satunya orang tua mereka masih hidup. Perempuan dengan welas asih yang
mampu memenuhi kerinduan saya dengan pelukan almarhumah bunda.
Kembali
menyoal Tedy, lingkaran hitam di sekitar mata akibat tidak tidur semalaman
adalah karena resah tengah menggalau di dalam dadanya. Menyumbar hingga pengap.
Ia berkisah, bahwa kepenatan itu bukan dihasilkan dari ie telah menemukan
kenyataan apa di luar sepengetahuannya mengenai Dewi, kekasihnya yang tinggal
di sebuah kompleks perumahan elit di daerah Tegal Selatan. Melainkan bahwa
dirinya tengah diadu dengan kejenuhan hubungan mereka yang ia nilai terlampau
datar akhir-akhir ini.
“Orang
berjalan butuh istirahat sejenak, Ted,” begitu yang dikatakan Mbak Atum
menanggapi. “kamu butuh break, maka kamu harus break.’
Siapa
tidak membenarkan kalimat menanggapi dari Mbak Arum? Setidaknya saya
membenarkannya. Namun jika kemudian ia semalaman tidak tidur, tak seorang dapat
memastikan bahwa sekali ini ia menolaknya. Setiap orang membutuhkan ruang gerak
lebih luas dari yang diperkirakan. Jadi bukan satu kemustahilan kalau sekali
ini, dia pun demikian.
“Break?”
membuka kata usai mencecap kopi buatan Emak, pagi (saat ini) di dapur ia turun
untuk sarapan. Di dapur, saya, Emak, dan Mbak Arum tengah membuat sarapan pagi
berupa nasi goreng sayur. Dan ia menyambung lagi pembicaraan semalam tanpa
harus mencari tali temalinya.
“Ya,
break,” tanggap Mbak Arum dnegan konsentrasi terjaga membuat telur mata sapi
pesanan mas Rivan seperti biasa untuk makan paginya. “Apa itu sebuah
keputusan?” lanjut Mbak Arum bertanya.
Mencecap
kopinya lagi dan ia melumat bibirnya. “Masih menimbang,” katanya sambil melirik
kepada saya, kebetulan saat itu sedang menoleh.
“Masih
menimbang?”
“Ya,
aku butuh lebih banyak waktu untuk memastikannya. Akan break atau tidak?” Tedy
beranjak dari kursinya dan berpindah posisi, berdiri menyandar tembok membeku
di sisi kiri saya berdiri menghadapi kompor bersebelahan dengan Emak.
Mata
lelah itu, sepintas saya menangkapnya, sungguh kontras dengan wajah putih
bercahayanya. Seperti mendung menggelantung mengancam menidurkan matahari.
Lingkaran itu terlihat jumawa. Ah, sebegitu bersungguh-sungguh dirinya
memikirkan nasib cintanya. Tidak kalau tak ada lingkaran hitam di daerah
sekitar mata dan saya mendengar ia mengeluh
telah berkali-kali keluar masuk kamar kecil. Sedikitnya setiap tiga
puluh menit sekali ia menghitung menggunakan penalarannya sendiri, hanya dalam
semalam.
Kemudian
membandingkan dengan diri saya sendiri? Jelas ini perbandingan telak, sebab
saya paling pasrah untuk urusan hati. Bukan saya menyerah akibat pernah gagal
membina hubungan serius. Dan saya telah meletakkan segalanya di garisan
takdir-Nya, mengenai nasib cinta saya yang tengah saya jalani saat ini.
Tetapi
Mbak Arum dan Tedy, berdua mereka tidak setuju, dan mengatakan kalau apa yang
saya lakukan, hanya sebuah pengalihan kata. Saya trauma sebenarnya, sedang
trauma dan kemudian bersembunyi di balik kata-kata sugesti yang saya buat
sendiri.
Ah,
itu, saking tidak percayanya membuat saya benar-benar mempertanyakannya. Kepada
diri sendiri, sehingga karena pertanyaan itu pun, saya sama sekali tak menemui
jawabannya. Membuat saya sering kali kebingungan sendiri. Mencari ketetapan
yang berdiam diri dan menatap dinding tebing perbukitan di belakang rumah.
Kemudian
dalam masa yang seringkali itu, tak jarang saya ditarik tangan-tangan masa lalu
kembali membawanya ke sana. Menemui Jonas di Bekasi. Jonas, anak dari seorang
pastur yang telah begitu menggiurkan diri saya setelah dua tahun mengenalnya
dan kami menjalin kasih tanpa ada pertentangan apa pun dari kedua orang tuanya
kendati kami tak satu keyakinan. Tapi Jonas kini telah berada di haribaan-Nya.
Benang-benang asmara kami terputus dihempas gelombang nestapa, tercerai begitu
saja akibat kecelakaan maut di daerah Condet, pada saat malam pergantian tahun
baru dan kami berdua merayakannya berkeliling-keliling menaiki motor gedhe
bersama dengan klub motor gedhenya.
Kecelakaan
maut yang telah merenggutnya dari saya. Perasaan merana yang begitu hebat,
mencoba saya bebat dengan bekeras diri, menerima setiap uluran tangan mengajak
saya mengarungi samudera kerlap-kerlip. Tak hanya sekali atau dua kali
kekerasan hati saya justru malah menenggelamkan diri saya. Mengubur saya hidup-hidup
dan lantas dibangkitkan lagi. Tak jelas apakah saya hidup atau mati?
Disadarkan
bahwa saya masih hidup adalah dengan kedatangan Kristiawan. Laki-laki dengan
status menggantung akibat kasus perceraiannya yang terus saja berlarut-larut.
Kristiawan adalah seorang putera tunggal dan pewaris dari seorang pemilik
pabrik kabel di Tangerang. Dia yang memiliki pergaulan yang luas ditambah lagi
dengan background keluarga,
membuatnya dikenal masyarakar bak selebriti. Paling memuncak dari ketenarannya adalah mengenai kasus
perceraiannya belum tuntas dan malah diselipi dengan desas desus miring
mengenai penyebab gugatan cerai sang istri. Satu yang paling mencolok adalah
tuduhan yang dinyatakan seorang saksi mengatakan bahwa ia seorang laki-laki
yang berorientasi seksual menyimpang. Dugaan itu pun semakin kuat karena
diamini oleh sang istri.
Tetapi
dari kasus itulah perkenalan kami bermula. Media tempat saya bekerja tak habis
membuat berita mengenainya. Dari sana juga saya sempat memiliki satu kesimpulan
dengan membenarkan bahwa jodoh akan datang dari tempat-tempat yang tak terduga.
Penyebabnya, adalah satu kali akhirnya ada pemberitaan yang bertolak dengan
kebenaran versi dirinya. Sehingga ia tak segan melayangkan sebuah surat somasi,
meminta media kami meralat pemberitaan yang menurutnya timpang itu.
Terhitung
dua kali ia menyabangi kantor redaksi media kami. Dan selama dua kali itu pula,
entah karena kebetulan, kami selalu bertemu. Bertemu lagi di kesempatan yang
lain. Dalam masa kasus cerainya yang tidak juga berkesudahan, kami bertemu di
sebuah restoran masakan Jepang di kawasan Kebayoran. Waktu itu jauh-jauh saya
datang dari Bekasi untuk mmenuhi undangan pesta ulang tahun pernikahan salah
satu kawan saya. Sedang dirinya, sekali waktu ia mengaku akan mengunjungi kedua
anaknya yang dibawa dan tinggal di rumah istrinya di daerah dekat restoran
masakan Jepang itu.
Seperti
yang dikatakannya adalah jujur, ia datang ke restoran itu bersama dengan kedua
orang anaknya berusia masing-masing delapan dan lima tahun. Merasa mengenali
wajah saya, Kristiawan lah yang kali pertama menyapa saya. Pun akhirnya ia
meminta diri untuk bergabung bersama dengan kami, yang mana kawan saya pun tak
merasa keberatan jika ia turut bergabung di sana.
Obrolan
kami berlanjut. Dari sushi dan tempayaki, sampai teori mengenai daya listrik
yang dialirkan oleh kilat jika ia menemui benda penghantar yang sinkron. Awal
yang manis berlanjut semakin manis.
Saya
sama sekali tak meletakkan keistimewaan pada diri seorang laki-laki mengenai
poligami, bukan pula saya merendahkannya. Hanya saya tak membicarakan mengenai
apa pun hal yang saling mengait di sana. Walau kemudian hubungan kami berlanjut
semakin intens, dan ia belum juga menemui titik temu dalam kasus perceraiannya,
sungguh, antara kami tak pernah menyinggung hal itu. Poligami.
Memang
saya pun tak memungkiri, jika kekerasan hati saya selama kurun waktu setahun,
memaksa diri berdiri tegak dalam kubangan air mata menenggelamkan kaki-kaki
saya, memberikan hasil setimpal dan kebahagiaan kembali saya raih. Asa
membentang dan impi ibarat layar yang terkembang. Kebahagiaan itu adakalanya
berkeluh akibat sidang perceraianya itu. Hal yang seperti itu tak bisa saya
elak. Karena toh saya tak lagi meragukan diri saya telah begitu mengikat dengan
sukma seorang Kristiawan Budhiarto. Dia pula telah meyakinkan saya, bahkan
kepada seluruh keluarganya bahwa ia tak membutuhkan waktu lama menemukan
pengganti wanita yang secara hukum masih berstatus istrinya itu.
Sekarang
hampir dua tahun hubungan kami, dengan sidang kasus perceraian mereka belum
memutuskan cerai. Pembagian harta gono-gini menjadi hal paling ruwet menambah
waktu semakin panjang dan entah akan berakhir kapan?
Sungguh
bukan tidak tahu diri jika saya pernah merasa lelah. Jangan ditanya pula telah
seberapa dekat diri saya dengan keluarganya begitu pula sebaliknya? Umur
terkadang menakuti saya. Kadang pula malah saya menantangnya. Saya tidak
meminta kejelasan yang berlebih dalam masa-masa keruh seperti sekarang ini.
Akan tetapi rasanya cukup adil jika saya sedikit mempertanyakan keseriusan dari
kalimat-kalimat syurganya. Memintanya segera mempercepat urusan perceraiannya.
Toh saya juga sudah memasang diri. Bertolak ke belakang hubungan kami berlatar
apa dari sisi Kristiawan? Sehingga jika hal terburuk (bagi saya) yang saya
terima nantinya, setidaknya saya telah memasang diri. Jika ternyata mereka
tidak jadi bercerai? Mereka kembali rujuk? Siapa yang bisa tahu melebihi
kuasa-Nya?




0 komentar:
Posting Komentar