Senin, 29 Juli 2013

MUARA TAKDIR

Setiap pagi, antara pukul tujuh sampai pukul delapan, dia akan lewat berjalan di jalanan kecil di depan rumah saya. Itulah jam di mana saya akan memperoleh kembali semangat hidup saya. Kendati hanya sebuah mimpi, sebuah khayalan, dan saya telah membatasi diri untuk tidak terlampau tinggi mengkhayal, akan tetapi saya mengakui (paling tidak kepada diri saya sendiri) bahwa dari sanalah sokongan hidup saya, saya dapatkan. Dialah alasan kenapa saya bertahan, melawan nyeri dan ngilu di sekujur tubuh. Bahkan perih pada kedua mata saya kala disabet kilau cahaya yang memancar dari tubuhnya.
Dia adalah Sumirah. Janda dari pernikahan saya yang ke tiga. Pernikahan yang didasari oleh persamaan kisah pilu apa yang sama-sama kami alami.
Sumirah adalah anak dari rekan seperjuangan saya di Semarang, saat melawan penjajah pada pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari itu dan mereka berasal dari Wonogiri.
Saat rekan saya gugur, ia dibawa Emaknya datang ke rumah orang tua saya dan menitipkannya di sana. Namun karena keadaan, orang tua saya melarang Emaknya yang hendak kembali ke Wonogiri dan mempersilahkan mereka untuk tinggal bersama kami, sementara ia bisa membantu Emak dan Bapak bekerja di sawah.
Seiring berjalannya waktu, Sumirah tumbuh menjadi gadis yang ayu dan pintar. Manut kepada orang tua sekaligus ringan tangan. Dan sekalipun keayuannya itu tidak lah menjadikan dirinya sebagai kembang desa, paling tidak Sumirah telah menjadi rebutan-rebutan pemuda kampung, bahkan para pemuda yang pergi merantau ke luar kota atau pulau. Baik mereka yang pergi untuk bekerja maupun melanjutkan studi.
Konon yang mejadikan Sumirah sebagai rebutan para pemuda kampuing adalah karena keayuan dan kepintaran luar dalamnya. Tidak seperti yang dikatakan teman-temannya yang sirik dan menuduhnya telah memakai susuk atau ilmu pengasihan.
“Dunia akherat aku ndhak slamet kalau aku menggunakan cara picik seperti itu, De,” jelasnya kepada saya. Kala itu beberapa menit setelah ia dilabrak Suharti dan orang tuanya, datang ke rumah dan menuduhnya telah menjadi biang kerok dalam hubungan Suharti dengan Rastono.
Sungguh seakar-akarnya kami sekeluarga lebih mempercayainya. Sama sekali tak ada keraguan di sana. Terlebih khusus bagi saya, telah saya dapati kenyataan apa dalam diri Sumirah yang membuat saya sangat yakin bahwa ia tak melakukan hal keji seperti itu. Bahwa dirinya pun tidak akan berpaling kepada lelaki yang lain, kacuali hanya dia menambatkan hatinya kepada Handoko. Ya, Handoko, anak sulung saya dari istri pertama yang tengah belajar ilmu kedokteran di Yogya.
Telah sejak lama. Sejak mereka berdua untuk kali pertama tahu apa arti rasa malu, sebenarnya mereka telah mengikat hati mereka. Bahkan di malam hari, setelah siang di mana Handoko mendapat kabar dirinya diterima di fakultas kedokteran, diam-diam mereka mengindap-indap pergi ke sawah dan menuju gubug di sana.
Pikiran dewasa siapa pun tentu akan berpikir ke arah sana, kendati pun siang atau malam, sawah yang tidak melulu ditanami dengan padi dan singkong itu telah menjadi arena bermain yang paling mengasyikan. Apalagi malam itu tanggal lima belas dalam penanggalan Jawa. Bulan bersinar cerah dan orang-orang turun ke sawah untuk obor jangkrik atau katak di ladang padi.
Dari sekian bukti itu semakin mengukuhkan kepercayaan diri saya terhadapnya. Sampai pada akhirnya di satu hari, sekitar beberapa bulan semenjak Handoko memperoleh gelar dokternya dan ia telah mengkaryakan dirinya sebagai tenaga medis di sebuah rumah sakit milik pemerintah di kabupaten Pati, kedua mereka secara terang-terangan mengakui bahwa adanya hubungan khusus di antara mereka.
Lalu, mendapat restu dan persetujuan pada hari itu juga, mereka lantas melakukan proses lamaran terlebih dahulu satu bulan kemudian. Disusul dengan rencana akad nikah dan resepsinya yang sesuai rencana akan digelar tiga bulan ke depan.
Tak ada hambatan berarti selama menjalankan persiapan pernikahan mereka. Kendati tahun 1966, kondisi tanah air masih sedikit karut marut dengan adanya sisa-sisa para pemberontak yang masih sembunyi-sembunyi dan masih berupaya menjalankan agresi mereka, namun rencana pernikahan mereka selamat sampai kemudian mereka resmi menjadi suami istri.
Hingga satu tahun pernikahan dan mereka belum juga dikaruniai momongan, musibah mulai berdatangan menghampiri keluarga kami. Saat itu bulam Muharam, dan istri saya hendak pulang ke Tegal menjenguk orang tuanya. Hanya diantar oleh Handoko, istri saya berangkat ke Tegal menggunakan bus. Waktu itu saya tak turut karena baru saja memulai bisnis baru, yakni pembudi dayaan ikan bandeng.
Dalam perjalanan pulang, terjadi kecelakaan di jalur pantura tepatnya di perbatasan antara Pemalang dan Pekalongan. Bus yang mereka tumpangi oleng akibat pecah ban. Kecelakaan itu merenggut dua orang anggota keluarga kami sekaligus. Istri saya meninggal di tempat akibat dadanya tertembus pecahan kaca. Sedangkan Handoko meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Keterpukulan Sumirah membuatnya hampir gila. Bertahun-tahun ia seperti memusuhi Tuhan. Menghujatnya karena selain tidak memberikan keturunan dari Handoko, pun telah diambilnya pula dari pelukannya.
Saya sendiri tersadar melihat bagaimana kondisinya, tidaklah seharusnya saya terus menerus terkungkung dalam kesedihan. Kasihan Sumirah kalau saya terdiam terus dalam perasaan merana. Bukankah hal itu hanya akan membuatnya senantiasa teringat dengan luka-lukanya?
Maka saya putuskan untuk kembali menikah. Dengan Wilujeng, sepupu jauh dari Sawitri, sepupu jauhnya atas saran dari Emak juga saudara-saudara saya yang lainnya. Dan yang paling penting selain untuk membangkitkan semangat hidup Sumirah, hal ini karena Rahayu, anak bungsu saya yang kala itu baru berusia tiga tahun.
Beberapa hari setelah menikah, Sumirah yang masih tinggal di rumah kami, datang ke lokasi tambak tempat budi daya ikan bandeng usaha saya membawakan makan siang. Saat itu pertengahan musim kemarau. Udara Pati panas menggarang, dan biasanya Wilujeng lah yang membawakan makan siang untuk saya, namun karena Rahayu sedang sakit cacar, maka Sumirah lah yang membawakan makan siang untuk saya.
“Rahayu sedang digendong Wak Lujeng tadi, De,” kata Sumirah datar, mengabaikan tawaran saya untuk ikut serta makan bersama dengan saya. “Tadinya dia minta ikut ke sini. Tapi tentu Wak Lujeng melarangnya.”
“Ya, aku memang sudah berpesan agar Rahayu tidak dibiarkan bermain di luar. Dan saku pun sudah berpesan kalau Rahayu senang digendong ketika dia sakit.”
Sumirah tersenyum samar. Menoleh dan menatap saya lekat-lekat. Bibirnya bergerak-gerak. Bukan tersenyum, bukan pula sedang mengatakan sesuatu, meski saya telah membaca bahwa bibirnya yang bergerak-gerak itu menyebut satu nama, “Mas Han”.
Lalu ia berpaling. Membuang pandangannya ke tengah-tengah tambak. Rambut hitam lebatnya tidak ia gelung. Melainkan dibiarkan jatuh tergerai di belakang punggungnya.
“De Witri melahirkan Rahayu sepekan setelah pernikahan saya dengan Mas Han,” ia menoleh lagi dan sepintas saya melihat sudut-sudut bibirnya tertarik. Sumirah tersenyum.
Hening. Sejenak pandangan kami saling bertaut. Matanya yang kosong menjelaskan banyak hal tentang luka. Tentang lara yang tengah berjelaga di atas kepalanya.
Perlahan namun pasti, saya merasakan ada sesuatu yang mendesir sangat pelan dan lembut di relung hati saya. Meremang dan memelintir sebuah rasa penyesalan. Akan tetapi menyesal terhadap apakah? Itu yang tidak saya ketahui. Saya mencari-cari tapi tak ketemu. Berhari-hari, memasuki bulan hingga tahun, perncarian saya tak menemui hasil.
Hingga di suatu malam, saya mendapati Wilujeng berperangai lain. Ia menolak untuk saya sentuh. Dan jika paksa untuk mengingat-ingat, ternyata perubahan sikapnya telah muncul semenjak beberapa bulan belakangan. Dan ia pun senantiasa bersikap culas kepada Sumirah. Pembawaannya kasar dan ia menjadi suka marah-marah tak jelas.
“Kenapa tidak kau datangi saja Sumirah? Kau selalu menyebut-nyebut namanya di dalam tidurmu. Kau juga gigih membela jika dia kena sindir sebagai janda gatal,” Wilujeng berkata tajam ketika saya tegur kenapa ai tidur di lantai?
Oh, sungguh saya merasa tidak tertuduh oleh perkataannya itu. Justru sebaliknya,s aya telah disadarkan bahwa itulah yangs aya cari. Itulah jawabannya. Ya, Sumirah. Saya menyesal kenapa bukan dia saja yang saya nikahi? Bahwa persinggungan kami dalam masa-masa suram itu telah melibatkan perasaan intim dan sentimentil. Oh..
Sejak malam itu, perangai Wilujeng kian mejadi-jadi. Ada saja sesuatu yang membuat Sumirah kena caci dan makiannya. Bahkan sempat saya mendapat penuturan dari orang-orang bahwa Wilujeng sempat menampar Sumirah. Hal itu diperkuat dengan permintaannya untuk mengusir Sumirah dari rumah.
Akan tetapi, sejauh saya tidak melihat sendiri dari perlakuan kasar Wilujeng terhadapnya yang melibatkan fisik, paling tidak sampai saya melihatnya secara langsung mengintimidasi Sumirah dan ia membalas kata-kata kasarnya, saya hanya tinggal diam. Bahkan saya merasa bahwa kediaman saya itu adalah tindakan yang paling aman ketimbang bersuara namun jadinya malah berat sebelah.
Hal itu saya lakukan karena saya sadar diri. Bahwa saya membutuhkan Wilujeng karena Rahayu telah terbiasa dengannya. Sedangkan saya tak bisa melihat siapa pun kecuali hanya ada Sumirah dalam pandangan dan khayal benak saya.
Ketika bulan terus berlanjut, dan kebencian Wilujeng akhirnya memuncak. Tak bisa lagi ia tahan. Hingga kemudian datang kepada saya sebuah permintaan cerai darinya. Lalu seenteng orang buang hajat, saya pun menjatuhkan talak kepadanya. Saat itu juga Wilujeng berkemas. Pergi membawa luka dan kemarahannya yang hingga kini saya telah mendengarnya tidak lah pernah habis. Sampai mati (ia mendahului kami semua) dia bawa amara dan kebenciannya itu ke liang lahat.
Tiga bulan setelah pernikahan kami, “pengambil alihan” Rahayu ke tangan Sumirah ia jadikan sebagai alasan untuk menerima pinangan saya menjadikannya istri. Meski tidak sedikit dari kedua pihak keluarga kami, bahkan dari pihak keluarga Sawitri, namun perasaa-perasaan telah mengaburkan mata dan telinga. Hingga kemudian nama kami pun resmi tercatat di KUA sebagai sepasang suami istri.
Di antara sekian kecocokan yang kami sebut-sebut, keyakinan bahwa kami adalah jodoh terakhir untuk masing-masing kami dan kami menyebutnya bahwa begitulah takdir. Jalan hidup yang tak mampu dielak oleh apa pun, termasuk di dalamnya bibit darah Handoko yang juga masih mengalir di dalam nadi hidup saya.
Berpuluh tahun keyakinan bahwa pernikahan kami adalah sebuah takdir semakin menguat meski kemudian diketahui Sumirah mandul.
Sampai akhirnya badai kebali datang dan menghantam keutuhan rumah kami, seperti dulu pernah meluluh lantakannya. Banyak suara-suara sumbang yang menyatakan bahwa kemandulan Sumirah itu karena karma. Karma oleh karena saya telah menyia-nyiakan Wilujeng demi menikahi janda dari anak sendiri. Bahkan sebelum mangkat, Emak saya berpesan untuk segera menceraikan Sumirah. Karena jikalau tidak, maka saya akan menerima lebih banyak tulah.
Tetapi saya berteguh hati. Menolak apa itu karma karena saya percaya dengan kuasa Tuhan. Hanya saja lantas keteguhan hati saya tidak mendapatkan dukungan dari Sumirah. Ia percaya dengan apa itu karma begitu ia mulai sakit-sakitan. Dan penyakitnya itu, ia datang dan pergi tanpa bisa diketahui apakah sakitnya itu?
“Kalau sampeyan kasihan, tolong ceraikan aku, Kang,” retihnya tidak hanya cukup sekali. Bahkan adakalanya ia menyebut nama saya dengan sebutan penghormatan “De”, seperti sebelum ia saya nikahi.
Sumirah mendapatkan banyak dukungan meminta cerai kepada saya. Bahkan Rahayu yang telah berusia dewasa pun mendukungnya. Dengan perasaan giris saya mengabulkan permintaan cerainya. Sakitnya bukan kepalang melebihi dari perasaan kehilangan Sawitri tempo dulu.
Rasa sakit masih tumbuh subur hingga kini usia saya mendekati seabad. Semakin perih karena setiap saat saya hanya bisa melihatnya saja lewat di depan rumah. Ia pulang pergi ke pabrik kacang menjual tenaganya di sana, paska ia keluar dari rumah saya. Menikah lagi dengan seorang duda yang kini pun telah berpulang.
Sementara itu saya hanya bisa memandanginya dari teras rumah dengan rasa sakit yang digilas berjuta khayal dan ketakutan. Mengkhayal dirinya akan kembali bersedia (meski hanya) tinggal di rumah saya dengan posisi yang sama seperti dulu ketika ia belum memulai sebuah ikatan intim dari pernikahannya dengan Handoko. Kemudian dengan saya. Ah, kerinduan yang hanya bisa saya khayalkan pada muara hidup saya di usia senja.


***

0 komentar:

Posting Komentar