Sedetik
saya tertegun, tubuh saya serasa kaku dan tak bisa digerakan. Ini bukan
sekali-sekalinya atau baru kali pertama terjadi saat saya melihat Susanti,
dengan rambut ikalnya yang dibiarkan tergerai dan diterpa angin. Bahkan setelah
dirinya bukan lagi menjadi milik saya seorang, dan saya melihat bagaimana
perutnya yang membuncit. Oh, saya tak pernah mengingat, bahwa hanya dari
mengingat namanya saja, ia masih membuat diri saya parau dan kepayang.
Sore
itu sekitar pukul tiga, langit Tegal cerah dengan sedikit awan-awan yang
menggantung, saya datang ke stasiun Tegal untuk menjemput Vera, tunangan saya dalam perjalanan pulang
dari Semarang, dan baru saja ia mengikuti ujian semester di salah satu
universitas di kota lumpia itu.
Saya
sedang duduk di peron, di kursi panjang dan menunggunya. Menghitung waktu, jika
tepat, maka kereta yang membawanya pulang hanya kurang dari tiga puluh menit
lagi akan sampai. Kemudian pandangan saya, entah apa yang membuat saya menoleh
dan menangkap Susanti, berdiri dengan jarak dari saya tak lebih dari sepuluh
sampai lima belas meter saja. Rambut ikal panjangnya yang tergerai berterbangan
diterpa angin. Saya membatu, sementara ia membalas menatap saya dan tersenyum,
berjalan pelan ia mendekati saya. Lalu mengulurkan tangannya menyalami saya.
“Sendirian?”
tanyanya pelan sembari duduk di samping saya.
Mengangguk-angguk
bodoh, tanpa sadar saya mengangkat sebelah kaki saya dan menyilangkannya. Satu
dari sekian cirri khas yang adakalanya saya akan menyadari, bahwa kebiasaan itu
muncul hanya pada saat-saat tertentu. Misalkan ketika saya sedang panik, saya
akan menggigiti kuku. Atau dalam kondisi seperti saat ini, duduk sembari
menyilangkan kaki, ah, saya telah menyebutkan alasannya.
“Menunggu
siapa?” tanyanya lagi.
“Vera,”
saya menjawab ringkas karena kau tahu alasannya apa?
Dan
giliran Susanti yang mengangguk. Oh, tentu dia tahu soal Vera. Saya
mengenalkannya beberapa waktu yang lalu ketika kami bertemu di sebuah resepsi
pernikahan teman.
“Kau
sendiri?”
“Mas
Han pergi ke Surabaya untuk satu urusan. Dan sore ini ia pulang,” ia menjawab
menjelaskan.
Sejenak
kami saling diam. Bukan telah menutup percakapan yang baru saja dimulai. Akan
tetapi karena handphone saya mendadak
berbunyi, dari Vera, ia menelepon hanya untuk memastikan bahwa saya sudah tiba
di stasiun untuk menjemputnya.
“Vera,”
entah apakah penting ketika saya mengatakan hal tersebut kepada Susanti?
Menjelaskan siapa yang menelepon hanya karena saya telah mengira, bahwa obrolan
kami terputus dan membuatnya merasa tidak nyaman?
Kadang,
kau tentu juga akan berbuat hal yang serupa, bukan? Kau tengah mengobrol dengan
seseorang lalu datang seorang yang lain sebagai “pengganggu”, dan kau berusaha
menjelaskan letak penting tidaknya si pengganggu itu penyebab obrolan kalian
musti rehat sejenak.
“Ya,
Vera,” Susanti mengangguk lagi. “Setahuku dia mengajar, bukan?”
“Ya,
dia mengajar Sekolah Dasar. Dan dia juga masih sekolah.”
Senyum
samar di bibirnya, dulu membuat teman-teman satu kantor senantiasa mengangkat
topi kepada saya. Mengatakan bahwa kata-kata istilah pungguk merindukan bulan
betul-betul maujud dalam lembaran kisah yang kami berdua arungi. Ya,
rekan-rekan kerja kami, khusus yang laki-laki, siapa yang akan bisa berkedip
dan mengalihka pandangannya ketika ia tersenyum?
Mereka
menyebut kekasih saya, perempuan berwajah dingin dan menggoda. Tipikal angkuh
dan tidak sentimentil. Sedikit banyak dari mereka berujar, bahwa Susanti adalah
paket yang didambakan tiap lelaki untuk menjadi pendamping hidupnya, maka saya
beruntung telah mendapatkannya.
Tetapi
itu dulu, lima sampai enam tahun yang lalu sebelum keberuntungan itu patah.
Kami berpisah dengan sekian alasan yang tentu kalian memahami. Tanpa banyak
kata, saya kalian tentu memahami jika sebuah hubungan harus diakhiri, kan?
“Jangan
lupa kau bagi undanga jika kalian menikah nanti,” pintanya dengan suara, nada
suara yang saya mendengarnya tidak pernah berubah. Khas wanita yang akan
membuatmu selalu teringat kepada Ibu.
“Tidak
akan.”
Kali
ini senyumnya melebar. She’s really know
my sense of humor.
“Ya,
kau tidak akan lupa menulis namaku dan suami dalam daftar tamu. Itu maksudmu,
kan?”
Saya
menggeleng sementara dia mengangkat bahu.
“Baiklah
kalau begitu, saya tidak akan memaksa,” lanjutnya sembari tersenyum.
“Ya,
begitu lebih bagus bukan? Tidak memaksa. Karena aku tidak akan berbicara
mengenai pernikahan.”
“Kenapa?”
“Kami
baru saja bertunangan sekitar tiga atau empat Minggu yang lalu. Dan aku tak
akan membicarakan mengenai pernikahan di tempat umum.”
Pandangan
matanya beredar anggun. “Bisa dimengerti,” desisnya sambil mengangguk. Dan
angin kembali menerbangkan anak-anak rambutnya. Aromanya seperti candu yang
ditebar di pelataran taman musim semi. Aroma kembang ilalang yang ringan dan
selalu mengingatkan hati dengan berjuta kerinduan.
Sementara
saya, saat itu adalah kembali merupa pungguk merindu bulan. Cerita yang masih
berlanjut namun kali ini tanpa lakon. Saya tidak lagi menjelma sebagai Sang Arjuna memenangi hati Dewi Sembodro.
Namun Jaka Tarub yang dipaksa rela melepas Dewi Nawang Wulan kembali ke
kahyangan.
Oh,
terdengar kalau saya masih mendambanya? Jika mengatakan sesuatu mengenai
kejujuran, maka kalimat “mendambanya” buat saya akan lebih spesifik dan intim.
Saya telah berkata mengenai tipikal yang ada pada dirinya adalah apa yang saya
butuhkan. Dirinya yang saya mau.
Namun
dari sekian fakta yang telah berlaku. Tentu itu membuatmu cukup paham bahwa
perempuan itu, yang pernah datang dan menyaru dalam separuh jiwa dan hidup
saya, nyata sekali tidaklah tercipta dari satu tulang rusuk saya. Tuhan tidak
menggariskannya dalam keseluruhan hidup kami. Kecuali hanya untuk diambil
pelajarannya saja.
Angin
menerpa wajah saya dan menarik dari kebisuan. Susanti sedang berbicara di
telepon. Wajahnya yang merona memalu, tentu ia tengah bermasyuk dengan separuh
hidupnya di luar sana yang dalam perjalanan pulang. Sementara peron kian
dipenuhi orang-orang yang datang dan hendak pergi, atau orang-orang yang datang
untuk menjemput seorang yang lainnya.
Beberapa
kali para pedagang asongan menyorongkan dagangannya menawarkan kepada kami.
Kadang, ketika para pedagang asongan yang mendatangi kami adalah seseorang
dengan tindak-tanduk beringas, mereka tidak segan memaksa kami untuk membeli
dagangannya. Kau sendiri tahu bagaimana tuntutan ekonomi dan kondisi setiap
tempat-tempat pemberangkatan angkutan umum? Entah itu stasiun atau terminal,
itu adalah lahan bagi mereka mencari-cari cara untuk menyambung hidup tanpa ada
pengindahan terhadap kaidah benar salah. Sehingga hasilnya adalah jauh pula
kaitannya dengan konsep kebenaran, manakala kami yang mendapat tekanan seperti
itu menggunakan cara-cara kami untuk membela diri. Kau setuju, tentu.
Tetapi
akan menjadi lain urusannya jika hari itu menjadi hari keberuntungan bagi para
tukang jualan asongan bertindak-tanduk begajul itu, jika mereka
berkeberuntungan besar bertemu seseorang yang berwelas asih, ya sedikit
mencontek kisah Sidharta yang rela dagingnya dimakan pemangsa, maka hanya
dengan berdiri saja di samping si target (percontohan si Sidharta tadi), si
target akan membeli beberapa dagangannya meski hanya sebungkus kertas tissue murah yang ketika ia dibayar
dengan menggunakan uang besar dan kebetulan tidak ada atau belum ada
kembaliannya, lantas beberapa butir permen lah yang dijadikan sebagai uang
kembaliannya. Sungguh keberuntungan yang dobel.
“Lalu
apa ruginya buatku?” kilah Susanti yang tidak setuju dengan pandangan saya
ketika ia membayar untuk tisu namun permen lah yang kemudian menjadi uang
kembaliannya, ya dalam hal ini Susanti lah yang menjadi percontohan Sidharta
tadi. “Aku mendapatkan tisu dan permen. Dua barang ini harganya sama dengan
ketika aku membelinya di warung-warung yang mangkal. Kecuali kalau aku
membelinya di minimarket. Aku rasa wajar saja kan kalau ada sedikit perbedaan
harga di tempat jualan yang menetap dan yang keliling?”
“Ya,
khas sekali dirimu.”
“Jangan
mulai.”
“Mulai
apa? Memang begitu, kan?”
Pandangan
Susanti terpaku. Sedetik, saya berpikir kalau dia akan tersulut emosi. Tetapi
saya keliru, saya telah menyinggung sedikit tentang masa lalu kami, yang siapa
saja termasuk kau, akan keberatan dan tersinggung jika sesuatu yang telah
dibuang mati diungkit-ungkit kembali. Namun ia malah lepas tertawa. Seringan
kembang ilalang dilandaikan nyiur sang angin.
“Mulai
untuk membicarakan Cinderella Complex,”
ia melanjutkan di sela mengulurkan permen dengan aneka ragam rasa dan merek di
atas tangannya kepada saya. Kemudian ia berhenti tertawa dan ada sedikit
keseriusan saya melihat di matanya.
“Cinderella Complex sudah bertemu dengan
pejantan tangguh setelah sang pejantan berhasil menebas leher sang naga
penjaganya.”
Pandangan
kami masih beradu. Sedetik. Sebelum kemudian Susanti mengalihkan pandangannya
dan saya melihatnya menghela napas. Ia tersenyum menggeleng ketika seorang perempuan
paruh baya dengan tubuh pendek ceking menawarkan dagangannya berupa gorengan
yang tanpaknya sudah lembek. Kemudian perempuan paruh baya ceking itu berganti
menawarkannya kepada saya. Sorotan mata dan senyum hapa-harap cemasnya memaksa
ingat saya bahwa ada sekiranya lima ribu rupiah di kantung celana, uang sisa
membeli bensin tadi.
Ah,
ya tepat lima ribu rupiah. Saya berikan saja uang itu dan perempuan itu segera
membungkus gorengan dengan kantung kertas. Sekilas saya melirik kepada Susanti,
sebelah tanganya menyisir rambutnya ke belakang yang jatuh menutupi muka akibat
kembali diterpa angin. Sedangkan tangannya yang lain ia mengelus perutnya yang
membuncit itu.
Perempuan
paruh baya itu membungkuk sangat rendah sebelum ia pergi. Lalu kami kembali kepada
sudut tak nyaman yang disebabkan oleh kecerobohan saya. Saya berusaha
menarikany kembali. Mengajaknya berbicara apa saja, namun ia lebih senang
berbicara mengomentari gorengan yang saya beli. Ia menegaskan bahwa rasa
kasihan saya terhadap perempuan paruh baya itu sama persis dengan yang
dilakukannya beberapa menit yang lalu saat ia membeli kertas tisu.
Namun
begitu saya tidak sepenuhnya yakin bahwa tertariknya kembali ia berbicara
kepada saya, bukan karena ia senang mengungkit-ungkit. Kesannya sangat jelas
bahwa ia enggan, muak, dan hanya menghargai saya saja ia kembali mau berbicara.
Saya
sendiri telah menakar, bahwa kecerobohan saya mungkin tak terampuni. Seperti
membuta peraturan yang saya buat sendiri, sementara hukumannya adalah orang
lain yang menentukan. Sehingga rasanya harus begitu malu kepadanya yang jumawa
dengan kebesaran hatinya, bahwa ia masih bersedia menanggapi saya. Menghargai
saya setelah apa yang telah saya lakukan, terlepas jika itu berada di luar
kendali.
Ah,
menyinggung mengenai apa itu Cinderella
Complex, sekalipun jika mau mengusut, justru Susanti sendiri lah yang telah
menyebut-nyebut istilah itu terlebih dahulu. Membangunkan ingatan pahit terkait
nama sebutan untuknya dulu. Saat dulu hubungan kami meruncing. Dengan segala
ketidak berdayaan kami yang tak mampu menguasai ego diri. Lantas turut
menambah-nambahi menjadi sangat kisruh adalah gunjingan-gunjingan yang
menyudutkannya. Menyebutnya Cinderella
Complex yang tak tahu diri. Bahwa penampilan mandirinya hanya sebuah
kamuflase. Wajah dinginnya hanya serupa topeng beku.
Seperti
dibangunkan dari mimpi, saat terdengar desis kereta api dari kejauhan. Lalu
orang-orang mulai berdiri dan merapat ke sepanjang rel di dalam peron itu. Saya
sendiri lebih mengikuti Susanti yang justru berdiri dan menyingkir ke belakang,
agak menjauh dari kerapatan.
Desis
kereta api terdengar semakin jelas. Lantai di bawah kaki sedikit bergetar.
Wajah Susanti, ia merona merah. Tidak lagi datar dengan kesan penghindaran yang
sudah untuk dielak.
“Suamiku
dan tunanganmu itu satu kereta,” katanya keras-keras kepada saya. Matanya
berbinar dengan wajah antara menoleh dan segera dialihkan kepada kereta yang
berjalan memasuki peron. Mula-mula pelan, berdesing, lantas benar-benar
berhenti dengan jarak dari muka kami sekitar lima sampai enam meter.
Pintu-pintu gerbong penumpang mulai dibuka. Dan seperti laron yang keluar dari
sarangnya, orang-orang mulai berdesakan keluar.
“Aku
akan menunggungu di sini. Di dekat pintu masuk,” katanya lagi dengan suara
gugup. Khas seorang pencinta kepada kekasihnya. “Bagaimana denganmu? Kau! Apa
kau akan menjemputnya ke sana? Maju ke depan sana? Atau berdiri saja di sini
denganku?”
Tidak
memperdulikan apa yang keluar dari mulutnya. Oh, apakah gerangan yang menelusup
di dalam rongga dada saya? Apakah itu? Iri kah? Cemburu? Entah apa yang membuat
saya menarik-narik ingatan sekaligus bertanya-tanya, pernahkan ia dulu sebegitu
gusarnya menanti setiap kedatangan saya di rumahnya? Pernahkah ia menggila
seperti itu?
Mendadak
ada penyesalan yang begitu mendalam. Wajah dinginnya, tentu bukan kamuflase
bukan? Itu bukan topeng. Bagaimana pun ciri seseorang, untuk seseorang yang ia
cintai, tentu ia bisa melakukan banyak hal gila. Banyak hal yang tak terduga
membuat kita semakin kepayang kepadanya. Kau sependapat, kan?
Dada
saya mendadak sesak. Setelah ada hantaman yang baru saya dapat setelah lebih
dari lia tahun berlalu, paska saya melepasnya demi membela ego. Ah, hantaman
itu sangat kuat menohok kala seorang laki-laki dengan tinggi sepantaran dengan
saya, wajahnya bersih dengan mata teduh yang berbinar, berjalan keluar dari
kerumunan orang-orang yang menyesak kepada kereta. Tangannya terentang menemui
Susanti dan merangkulnya.
Beberapa
saat saya terpaku. Cinta dan romantismenya seperti layar terkembang ditaburi
jelaga rindu. Degup jantung saya mengabaikan perasaan ngilu, sebab ia tiada
tempat jika diletakkan di mana pun dalam rentang hubungan saya dengannya saat
ini.
Akhirnya
saya berpaling dari romantisme sang mantan, kala sebuah tangan, halus menyentuh
pundak saya dari belakang. Kemudian saya pun mendapat pelukan yang sama ketika
menoleh. Vera memeluk saya hangat. Meski pelukan hangatnya itu, ah, tak
sebanding dari pada apa yang saya rindukan dari pelukan Susanti dulu.
Vera
sudah melepas pelukannya, Susanti dan suaminya mendekat. Suaminya menyalami
saya dan Vera, begitu pula Susanti menyalami Vera. Hanya sebentar berbasa-basi,
basa-basi yang membantu saya untuk mengaburkan rasa ngilu, yang mana Susanti
coba untuk menangkapnya dari caranya ia menatap saya tajam. Tetapi saya
mengelak. Mengelak memberinya apa yang ia cari sampai akhirnya kami semua
berbalik dan berjalan pulang, sebelum terkahir sekali, yang saya tangkap
darinya adalah sebuah lambaian tangan dan rambutnya kemnbali diterpa angin.
Melunglaikan sukma saya yang senantiasa parau. Ah..
***
Tegal, 16-17 Januari 2013